Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bakti Cinta Seorang Anak Gangguan Jiwa Rawat Ibunya yang Sakit

Bakti Cinta Seorang Anak Gangguan Jiwa Rawat Ibunya yang Sakit

Rp 0Terkumpul dari Rp 50.000.000
90 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “Pintu surga yang paling tengah adalah orang tua. Jika kamu mau, muliakanlah pintu tersebut atau sia-siakanlah.” (HR. Tirmidzi)


  Bakti Suci Seorang Anak: Mantan ODGJ yang Memuliakan Sang Ibu Di tengah keterbatasan mental yang pernah mengujinya, Kang Agus membuktikan bahwa kasih sayang seorang anak kepada ibunya tidak memiliki batas. Agus pernah mengalami gangguan jiwa (ODGJ) di masa lalunya. Namun, ketika melihat sang ibu, Ibu Uwat (70 tahun), jatuh sakit dan tak berdaya, Agus bangkit dan memilih untuk sepenuhnya mengabdikan hidupnya demi merawat wanita yang melahirkannya tersebut


  Sudah sejak satu tahun yang lalu, Ibu Uwat didera penyakit stroke dan pengapuran tulang yang parah. Kini, tubuh rentanya sama sekali tidak bisa digerakkan dan hanya bisa terbaring pasrah di atas kasur. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk kayu kecil berdindingkan bilik bambu yang sudah lapuk dan rapuh dimakan usia. Tanpa sanak saudara lain, di gubuk sunyi itulah Agus menjadi tangan, kaki, dan pelindung satu-satunya bagi sang ibu.


  Berlari di Antara Jerigen Air dan Tempat Tidur Ibu demi Upah 25 Ribu Demi menyambung hidup dan membeli obat, setiap hari Agus memeras keringat menjadi buruh angkut air jerigen milik orang lain. Pekerjaan fisik yang melelahkan ini hanya menghasilkan upah 25 ribu hingga 30 ribu rupiah saja sehari. Itu pun penghasilannya teramat tidak menentu, tergantung seberapa banyak orang yang membutuhkan jasanya.


  Perjuangan Agus terasa berkali-kali lipat lebih berat karena ia harus membagi waktu dengan ketat. Dari pagi, siang, hingga larut malam, Agus harus bolak-balik menyelingi pekerjaannya di luar untuk pulang ke gubuknya. Ia harus memastikan ibunya sudah makan, mengganti pakaiannya, menyuapinya dengan telaten, baru kemudian berlari lagi memikul jerigen air demi recehan rupiah. Kerap kali ia menahan lapar sendiri asalkan sang ibu bisa mendapatkan sesuap nasi.


Rasulullah ﷺ bersabda:

  “Celaka, celaka, dan celaka! Yaitu orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya sudah senja, namun (baktinya kepada mereka) tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim)


  Merawat dalam Keterbatasan, Berharap Mukjizat Kesembuhan Meskipun lelah fisik dan mental sering kali menghampiri, Agus tidak pernah mengeluh apalagi menelantarkan ibunya. Di tengah kondisi dinding bilik bambu gubuknya yang mulai bolong-bolong ditiup angin malam, Agus selalu menyelimuti ibunya dengan hangat sambil membisikkan doa agar ibunya lekas sembuh. Agus hanya ingin ibunya bisa berobat dengan layak ke rumah sakit dan gubuk tempat tinggal mereka bisa diperbaiki agar tidak roboh menimpa sang ibu yang lumpuh.


  #TemanBaik, mari kita kumpulkan pahala terbaik kita dengan menemani perjuangan luar biasa Kang Agus.



Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id