Berjuang Tanpa Kenal Waktu Meski Penghasilan Tak Tentu

Berhari-hari tak pulang, Abah Irin terpaksa tidur di pinggir jalan karena kursi bambunya belum terjual..
Sudah beberapa hari Abah Irin (63) tidak pulang ke rumah. Bukan karena ingin merantau. Bukan pula karena sedang bepergian. Abah hanya belum berhasil menjual kursi bambu hasil produksinya sendiri.
Setiap pagi, Abah memikul kursi-kursi bambu itu lalu berjalan puluhan kilometer menyusuri jalanan. Dari kampung ke kampung, dari toko ke toko, berharap ada seseorang yang bersedia membelinya.
Namun sering kali harapan itu berakhir sia-sia.
Saat malam tiba dan dagangannya belum juga laku, Abah tak punya cukup uang untuk ongkos pulang.
Akhirnya beliau tidur di emperan toko yang sudah tutup.
"Abah mah tidur dimana aja, di pinggir jalan juga bisa." tuturnya pelan.
Di usia yang tak lagi muda, tubuh Abah sebenarnya sudah tak sekuat dulu. Kakinya sering terasa nyeri karena rematik. Setelah berjalan seharian sambil membawa kursi bambu, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.
"Kaki Abah ada rematik juga, Nak. Kalau habis keliling seharian suka sakit. Apalagi kalau tidurnya di jalan," ucapnya. Namun rasa sakit itu tak pernah membuat Abah berhenti. Sebab di rumah masih ada seorang istri yang menunggu kepulangannya.
Penghasilan Abah tidak menentu. Bahkan ada hari-hari ketika tak satu pun kursi berhasil terjual.
Ketika bekal sudah benar-benar habis, Abah terpaksa pulang meski dagangannya masih belum laku.
Kursi-kursi bambu itu ditinggalkan begitu saja di tempat terakhir beliau beristirahat.
Kadang dititipkan di rumah kosong.
Kadang ditaruh begitu saja di tempat yang dianggap aman.
"Kalau masih rezeki, insyaAllah ngga akan ada orang yang ngambil," katanya.
Namun tidak jarang ketika Abah kembali, kursi yang dibuat dengan susah payah itu sudah hilang entah ke mana.
Meski berkali-kali kehilangan, meski harus menahan sakit dan tidur di jalanan, Abah tetap memilih untuk terus berjuang. Karena bagi Abah, menyerah bukanlah pilihan. "Laki-laki mau gimanapun juga tetap harus tanggung jawab."
Hari ini Abah masih berjalan membawa kursi-kursi bambunya, berharap ada yang membeli hasil kerja kerasnya.
TemanBaik, mari bantu ringankan perjuangan Abah Irin agar beliau tidak lagi harus tidur di pinggir jalan dan berjalan puluhan kilometer demi mempertahankan hidup bersama istrinya.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
