Kabulkan Harapan Tukang Becak Bungkuk Hidup Layak di Hari Tua

Waktu menunjukkan hampir jam 8 malam ketika Abah Junaedi akhirnya berhenti mengayuh becaknya. Di tangannya hanya ada uang 20 ribu. Abah dihadapkan dengan pilihan sulit, yaitu mengisi perut kosongnya dengan beli makanan atau menahan pedihnya rasa lapar demi menabung untuk bawa istri berobat dan bayar kontrakan.
Sejak tahun 1970-an, Abah Junaedi bekerja sebagai tukang becak. Puluhan tahun berlalu, tapi hidup Abah hampir tidak berubah. Setiap hari Abah mulai keluar dari rumah sejak pukul 6 pagi. Ia berkeliling hingga sore, bahkan sering sampai malam. Berharap ada satu orang saja yang membutuhkan becaknya.
Di rumah kontrakan kecilnya, istrinya menunggu. Tubuh istrinya sedang sakit dan lebih sering berbaring. Lalu ketika ditanya tentang anak-anaknya, Abah hanya tersenyum pelan. “Abah mah gak mau ngerepotin anak-anak… mereka juga udah punya kewajiban masing-masing sekarang.” kata Abah sambil tersenyum menahan rasa pilu dihatinya. Kalimat itu sederhana, tapi kesannya terlalu banyak hal terpendam yang tak bisa ia ceritakan semua pada kita.
Belakangan ini, Abah juga mulai panik dan bingung memikirkan kontrakan yang nunggak karena tak kunjung dibayar. Sementara rasa sakit di punggungnya semakin sering datang ketika mengayuh becak. “Abah juga pengennya istirahat di rumah… nemenin istri. Tapi kalau Abah gak narik becak, dari mana Abah sama istri mau makan,” ucapnya pelan.
Di usia ketika banyak orang sudah menikmati masa tua, Abah Junaedi masih harus berjuang di jalanan setiap hari. Hari ini kita masih punya kesempatan untuk membantu meringankan langkah Abah. Sedikit bantuan darimu, bisa membantu Abah dan istrinya bertahan menjalani hari-hari mereka. Mari ulurkan kebaikan terbaikmu untuk Abah Junaedi!❤️

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
