Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Tangan Hampir Diamputas Bantu Perjuangan Bu Bibi Melawan Tumor Ganas

Tangan Hampir Diamputas Bantu Perjuangan Bu Bibi Melawan Tumor Ganas

Rp 70.000Terkumpul dari Rp 50.000.000
77 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Di usia 61 tahun, Bu Bibi harus menghadapi ujian berat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dahulu, Bu Bibi menjalani hari-harinya seperti biasa dan tidak memiliki penyakit yang membuatnya harus sering berobat. Namun, pada tahun 2025, muncul sebuah benjolan di tangannya.


  Dari hasil pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa benjolan tersebut merupakan tumor ganas di area tangan. Kabar itu tentu menjadi pukulan berat bagi Bu Bibi dan keluarganya. Pada tahun 2025, Bu Bibi kemudian menjalani operasi untuk pertama kalinya dengan harapan tumor tersebut dapat diatasi.


  Namun, setelah operasi, perjuangan Bu Bibi ternyata belum berakhir. Rasa sakit masih terus ia rasakan. Memasuki tahun 2026, benjolan tersebut kembali muncul dan semakin membesar. Bu Bibi harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan, meskipun jarak rumah sakit dari tempat tinggalnya cukup jauh.


  Hari demi hari, kondisi tangan Bu Bibi semakin memburuk. Benjolan terus membesar hingga membuat tangannya tidak lagi bisa digerakkan. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, dokter akhirnya menyarankan agar tangan Bu Bibi harus diamputasi.


  Dalam setiap perjuangannya, Bu Bibi selalu ditemani oleh sang suami, Abah Abak, yang kini berusia 67 tahun. Abah Abak bekerja serabutan di kebun milik orang lain. Penghasilannya tidak menentu, terkadang hanya mendapatkan sekitar Rp50.000, dan di hari lain sekitar Rp60.000.


  Setiap hari, langkah kaki senja Abah harus menempuh lebih dari 7 kilometer jalanan terjal demi mengais rezeki di kebun. Di bawah sengatan terik matahari yang membakar kulit keriputnya, tak ada kata menyerah dalam kamus hidup Abah. Terik matahari yang menyengat seolah menjadi saksi bisu betapa kerasnya perjuangan Abah di usia senjanya.


  Penghasilan tersebut tentu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun ketika kebutuhan pengobatan Bu Bibi datang, Abah Abak tidak tinggal diam. Berkali-kali ia harus meminjam uang kepada tetangga, bahkan menjual barang-barang yang dimiliki, demi membawa sang istri berobat dan menjalani kontrol.


  Ia tetap harus melakukan kontrol secara rutin ke rumah sakit. Namun keterbatasan ekonomi sering kali membuat Bu Bibi terlambat dibawa untuk menjalani pemeriksaan. Bukan karena tidak ingin berobat, tetapi karena terkadang mereka benar-benar tidak memiliki uang untuk biaya perjalanan dan kebutuhan selama ke rumah sakit.


  Di usia senjanya, Bu Bibi hanya ingin bisa menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Namun penyakit dan keadaan ekonomi membuat perjuangannya menjadi begitu panjang. Bersama Abah Abak, ia terus berusaha bertahan, saling menguatkan di tengah keterbatasan.

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id