Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bantu Dik Nazwa Dari Auto Imun Yang Mengancam Nyawa

Bantu Dik Nazwa Dari Auto Imun Yang Mengancam Nyawa

Rp 0Terkumpul dari Rp 120.000.000
105 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “lemes mah, adik suka pusing kalo dikasih obat” lirih Nazwa kecil menahan sakit yang ia derita saat menjalani kemo terapi karena Auto imun, sudah menjalani X kali terapi yang membuat fisiknya lemah, sel lain rusak yang ditandai dengan rambut rontok dan badan yang semakin kurus namun belum menunjukan perkembangan. sedangkan ayah dan ibunya hanya pedagang kecil yang untuk makan saja harus memilih yang paling murah asal perut terisi karena penghasilan keluarga yang tak mencukupi.



  Berawal dari munculnya ruam pada wajah dan terlihat lelah, Nazwa (x tahun) dikira hanya sakit ruam biasa dan kelelahan karena main sang ibu hanya merawat Nazwa dirumah, namun ruam tak kunjung hilang dan kondisi Nazwa kecil terlihat semakin memprihatinkan sehingga sang ibu memeriksakannya ke Puskesmas terdekat.


  Bagai petir menyambar, keluarga sederhana ini harus menerima kenyataan anak semata wayang yang mereka rawat menderita Autoimun.


  jika pengobatan dan kontrol rutinnya terputus. Di tengah keterbatasan penghasilan ayahnya yang tak menentu, kebutuhan obat dan biaya bolak-balik rumah sakit terus berjalan. Dalam doa, keluarga ini hanya bersandar pada pertolongan Tuhan Yesus—berharap mukjizat terjadi agar Ellenore bisa kembali sehat dan beribadah bersama mami papinya..



  Ellenore Charlotta Haidir (15) dikenal sebagai anak Tuhan yang taat. Ia rajin Sekolah Minggu, aktif beribadah, dan selalu duduk bersama mami papi di bangku gereja setiap hari Minggu. Namun hari ini, Ellenore tak lagi mengenakan pakaian terbaiknya untuk beribadah. Ia lebih sering mengenakan baju pasien, menahan nyeri sendi dan tubuh lemas akibat Autoimun SLE yang menyerang sistem imunnya sendiri. Flare lupus bisa datang tiba-tiba, menyerang sendi, mata, bahkan organ dalam—dan terakhir membuatnya masuk ICU selama dua hari dalam kondisi kritis.



  Semua bermula saat Ellenore terjatuh ketika mengikuti kegiatan olahraga sekolah. Cedera itu berujung pada diagnosa patella malformation dan membuatnya menjalani 4 kali operasi lutut. Namun peradangan yang tak wajar membuka fakta lain: ia mengidap lupus. Penyakit kronis ini membuat tubuhnya menyerang dirinya sendiri, menyebabkan pembengkakan sendi, penumpukan cairan, dan kini komplikasi glaukoma. Sejak 2025, Ellenore terpaksa berhenti sekolah. Yang dulu aktif dan penuh mimpi, kini harus membatasi langkah bahkan membutuhkan kursi roda.


  Jika pengobatan lupus terputus, flare bisa semakin agresif—merusak sendi lebih parah, mengancam penglihatan, bahkan berdampak pada organ vital. Kondisinya bisa memburuk sewaktu-waktu. Ia membutuhkan kontrol rutin, obat-obatan khusus yang banyak tidak ditanggung penuh, serta biaya operasional berulang ke rumah sakit.


  Di tengah perjuangan ini, ayahnya yang berusia 68 tahun tetap bekerja mengantar katering dengan penghasilan tak menentu demi membiayai pengobatan. Usaha mie ayam yang dulu mereka jalankan sudah berhenti sejak Ellenore sakit. Untuk bertahan, keluarga meminjam uang dan menjual barang elektronik di rumah.


  Di setiap malam panjang di rumah sakit, mami dan papi Ellenore terus melangitkan doa, mengingat bilur-bilur Yesus sebagai sumber pengharapan mereka. Mereka percaya Tuhan sanggup menolong, namun mereka juga tahu mukjizat bisa datang lewat tangan-tangan yang tergerak membantu. Ellenore sendiri hanya rindu satu hal sederhana: bisa kembali duduk di gereja, memuji Tuhan bersama orang tuanya, dan kembali sekolah seperti remaja lainnya.


Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id