Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Menua di Perempatan Jalan. Bantu Abah Kiji Berjuang

Menua di Perempatan Jalan. Bantu Abah Kiji Berjuang

Rp 11.724.879Terkumpul dari Rp 50.000.000
Sudah Berakhir
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Di sebuah perempatan jalan, di bawah terik matahari yang menyengat, Abah Kiji berdiri diam. Dengan kepala badut yang sudah kusam dan sisa semangat yang ia kumpulkan setiap hari, Abah berharap ada satu dua orang yang mau berhenti membeli kerupuk dagangannya.



  Abah Kiji (71 Thn)adalah seorang lansia sebatang kara. Dulu, ia masih bisa menjajakan air mineral dan kerupuk sambil mengenakan kostum badut. Kini, tenaganya tak lagi sekuat dulu. Modalnya pun habis. Yang tersisa hanya kerupuk yang ia beli dari warung dan dijual kembali seharga Rp5.000.


  Dari satu kerupuk, keuntungan Abah hanya Rp1.000. Tak jarang, dalam sehari hanya satu atau dua kerupuk yang laku. Bahkan ada hari-hari ketika Abah pulang tanpa membawa uang sepeser pun.



  Karena sakit di kakinya, Abah tak mampu berjalan jauh atau berkeliling. Ia hanya bisa berdiam diri di satu titik, menunggu dengan sabar, meski panas menyengat dan tubuhnya semakin lemah. Padahal jalan menuju perempatan itu pun cukup berbahaya, tanahnya tak rata, licin saat hujan, dan becek untuk dilewati seorang lansia dengan kondisi fisik seperti Abah.


  Dalam sehari, Abah hanya makan dua kali. Itu pun jika ia memiliki uang. Sekali makan, Abah membeli nasi di warung seharga paling mahal Rp10.000. Jika tak ada uang, Abah memilih menahan lapar, berharap ada orang baik yang memberinya makanan di jalan.



  Abah Kiji mengidap diabetes kering. Kaki kanannya mengecil dan sering terasa sakit jika dipakai berjalan terlalu lama. Ia juga pernah mengalami kecelakaan tertabrak kendaraan hingga harus dirawat selama dua bulan di rumah sakit. Saat itu, Abah sendirian. Tidak ada keluarga yang menemani. Semua diurus oleh perawat, dan biaya pengobatan tertolong BPJS.


  Istri Abah telah meninggal dunia saat pandemi COVID-19. Abah memiliki dua anak, namun hingga kini tak satu pun datang menjenguk. Hanya seorang cucu, yang sedang mondok di pesantren di Leles, yang sesekali datang menjenguk Abah, itupun sebulan sekali.



  Untuk tempat tinggal, Abah bahkan tidak memiliki rumah. Ia tinggal di sebuah gubuk kayu kecil yang menyatu dengan kandang itik. Tempat tidur Abah hanya sepetak, bahkan ia tidur berdampingan dengan anak-anak itik yang disimpan dalam kotak. Itik-itik tersebut bukan miliknya, melainkan milik majikan yang mengizinkan Abah menumpang tinggal di lahannya.


  Gubuk itu terbuat dari kayu-kayu bekas yang Abah kumpulkan dari hasil memulung, dibantu sedikit oleh pemilik lahan. Pintu kayunya rapuh, dikunci dengan gembok kecil. Abah pernah kemalingan, dan satu-satunya barang berharga yang diambil hanyalah termos, karena memang tak ada barang lain yang bisa dicuri.


  Abah tidak punya perabot. Hanya beberapa potong pakaian, dan tubuh yang terus berusaha bertahan. Untuk makan pun terkadang Abah membawa pulang nasi bungkus yang dibeli, disisakan untuk besoknya, lalu dimasaknya kembali.




Alhamdulillah, Campaign Telah Selesai

Terkumpul Rp 11.724.879 dari 0 donatur. Terima kasih untuk semua yang telah berkontribusi.

Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id