Juang Lansia Penjual Mainan Sebatang Kara yang Sering Linglung

Di usianya yang telah senja menyentuh 80 tahun, Abah Yayat harus bertaruh nyawa menyusuri trotoar jalanan demi memikul mainan Cepot. Tubuhnya kini sudah bungkuk, ringkih, dan lemas. Ia menderita penyakit darah rendah akut yang sering kali membuatnya pusing hebat dan sempoyongan di jalan. Bahkan, karena faktor usia dan kondisi fisik yang kian merapuh, Abah mulai linglung hingga sudah dua kali mengalami kejadian hilang arah dan lupa jalan pulang. Tanpa biaya sepeser pun untuk berobat, Abah hanya bisa pasrah membiarkan penyakitnya kambuh dan berserah diri pada kebaikan tetangga yang mau merawatnya.
Kehidupan Abah Yayat adalah potret kesunyian dan kepedihan yang mendalam. Sejak istrinya meninggal dunia, ia hidup sebatang kara tanpa saudara. Anak satu-satunya yang berada di luar kota bersikap sangat acuh, hampir tidak pernah menengok, apalagi mengirimkan uang bulanan untuk sang ayah. Di rumah kontrakannya yang sepetak, kotor, dan sangat tidak layak, Abah selalu dilingkupi rasa sepi. Pendapatannya dari berjualan mainan sangat minim, hanya sekitar Rp25.000, yang sebagian besarnya harus disetorkan kembali kepada bos pemilik barang.
Ironisnya, saat dagangan sepi dan penghasilannya nol rupiah, Abah terpaksa mengabaikan rasa laparnya. Untuk bertahan hidup, Abah sering kali hanya makan nasi putih pemberian tetangga yang ditaburi bumbu penyedap rasa sebagai satu-satunya lauk. Tak hanya itu, Abah kini terlilit utang modal ke bosnya sebesar Rp150.000 yang belum mampu ia cicil sama sekali. Setiap hari, pikiran Abah juga terus tersiksa karena harus menabung untuk biaya kontrakan bulanan. Tak jarang, Abah terpaksa meminjam uang ke sana-kemari demi membayar sewa tepat waktu karena ketakutan yang mendalam akan dimarahi atau diusir oleh pemilik kontrakan.
Pernah suatu hari, di tengah kondisi tubuh yang lemas dan pusing, Abah ambruk dan terjatuh di trotoar bersama seluruh barang dagangannya. Beruntung, orang-orang di sekitar langsung berbondong-bondong menolong dan memberinya ongkos agar Abah bisa pulang. Meski tubuhnya sudah sering menolak untuk berjalan, Abah tetap memaksakan diri melangkah setiap pagi demi harga diri agar tidak mengemis. Abah memendam mimpi sederhana: ia ingin bisa berobat ke dokter dengan layak tanpa memikirkan biaya, serta memiliki modal usaha sendiri agar terbebas dari lilitan utang modal.
Mari kita hadirkan kembali kehangatan dan kepedulian untuk masa tua Abah Yayat. Klik tombol donasi sekarang untuk menyambung harapan hidup Abah Yayat.
- Klik “Donasi Sekarang;
- Masukan nominal donasinya;
- Pilih metode pembayaran;
- Dapatkan laporan via email.
Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan bagian dari program Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
