Bantu Ardi Melawan Kerusakan Hati Dan Kakaknya Yang Lumpuh

Tak ada yang lebih menyakitkan bagi orang tua selain melihat anaknya menahan sakit, sementara mereka tak memiliki cukup biaya untuk membantunya. Itulah yang kini dirasakan oleh Ibu Aswati dan suaminya, Pak Hendrik. Putra mereka, Muhammad Ardiansyah, masih harus berjuang melawan penyakit serius yang perlahan menggerogoti organ hatinya.
“Ardi sering mengeluh sakit, terkadang sampai nangis dan teriak terus-menerus, saya hanya bisa mengobati dan menghibur sebisanya”..ujar Bu Aswati.
Meski penyakit itu tak tampak dari luar, Ardiansyah menanggung penderitaan yang begitu besar. Rasa sakit yang terus datang, tubuh yang semakin lemah, serta perjuangan panjang yang harus dijalaninya menjadi beban yang tak terbayangkan bagi seorang anak seusianya.
Semua berawal ketika Ardi sering mengalami demam dan panas tinggi. Karena keterbatasan ekonomi, orang tuanya hanya mampu membeli obat warung dengan harapan kondisi Ardi segera membaik. Namun harapan itu pupus. Hari demi hari, tubuh Ardi justru semakin lemah hingga suatu saat ia muntah darah dan buang air besar bercampur darah akibat pecahnya pembuluh darah di dalam tubuhnya.
Dengan penuh kepanikan, Ardi dilarikan ke rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa Ardi mengidap fibrosis dan sirosis hati, yaitu kerusakan hati akibat terbentuknya jaringan parut yang membuat fungsi organ hati terus menurun. Sejak saat itu, Ardi harus menjalani kontrol rutin dan dirujuk ke RSCM Jakarta agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Namun perjuangan keluarga ini tidak berhenti sampai di situ. Pak Hendrik hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Apa pun pekerjaan yang ada akan ia lakukan, mulai dari menjadi kuli panggul bambu hingga buruh bangunan. Penghasilannya tidak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sementara Ibu Aswati harus tetap berada di rumah untuk merawat anak-anaknya.
Beban keluarga semakin berat karena kakak Ardi, Ijah (17 tahun), juga membutuhkan perhatian khusus. Setelah mengalami kecelakaan ditabrak sepeda motor, tulang kakinya patah dan kondisi panggulnya mengalami kelainan. Hingga kini Ijah belum bisa berjalan normal dan hanya mampu bergerak dengan mengesot. Pendengarannya ikut terganggu, kemampuan bicaranya pun tidak lagi lancar, sehingga terkadang ia hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan.
Untuk tempat tinggal di kampung, mereka hanya memiliki rumah panggung sederhana yang dibangun sendiri di atas tanah sewaan milik orang lain. Rumah itu berdiri di pelosok desa, di Kabupaten Lebak, Banten, dan menjadi satu-satunya tempat mereka berteduh di tengah segala keterbatasan.
Demi menyelamatkan Ardi, keluarga ini akhirnya memutuskan berangkat ke Jakarta dan tinggal sementara di sebuah rumah singgah di Depok dengan bantuan kerabat. Di RSCM, Ardi dijadwalkan menjalani tindakan endoskopi untuk melihat secara langsung kondisi organ di dalam tubuhnya sebagai bagian dari proses pengobatan.
Meski memiliki tempat singgah sementara, mereka tetap harus memenuhi kebutuhan makan setiap hari, biaya transportasi bolak-balik ke rumah sakit, serta berbagai kebutuhan selama proses pengobatan Ardi yang semakin hari perutnya semakin membesar akibat penyakit yang dideritanya. Mereka sadar tidak mungkin selamanya bergantung pada belas kasihan keluarga maupun bantuan orang lain.
Sahabat Kebaikan. Di tengah segala keterbatasan, Ibu Aswati dan Pak Hendrik hanya memiliki satu harapan, melihat Ardi kembali sehat dan bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya, mari ulurkan tangan untuk membantu perjuangan Ardi. Berapa pun bantuan yang diberikan akan sangat berarti untuk meringankan biaya pengobatan, transportasi,

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
