Ibu yang Tak Pernah Lelah demi Kesembuhan Anaknya

Di usia 4 tahun, Arkanza belum mampu duduk tanpa sandaran. Tubuh kecilnya menyimpan begitu banyak perjuangan yang tak terlihat. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, putra dari Ibu Titi (44 Thn), seorang ibu yang setiap harinya bertaruh harapan demi kesembuhan buah hatinya.
Sejak bayi, Arkan didiagnosis Hipotiroid, kondisi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon yang cukup untuk mengatur metabolisme tubuh. Akibatnya, pertumbuhannya terhambat. Tak hanya itu, Arkanza juga mengalami kebocoran jantung serta pengecilan otak yang membuat kondisinya semakin rentan.
Keluar masuk rumah sakit sudah menjadi rutinitas. Ia sering demam tinggi, muntah, sesak napas, hingga pernah dirawat di ICU selama lebih dari satu bulan. Saat usianya melewati satu tahun, kondisinya semakin memburuk. Arkan harus dirujuk ke RSCM, karena ditemukan penyempitan usus tepat di bawah lambungnya dan harus segera menjalani operasi besar. Setelah operasi, ia dirawat hampir dua bulan lamanya.
Kini, ia masih harus menjalani terapi hingga tiga kali dalam seminggu dan kontrol rutin ke rumah sakit. Dan memakai sepatu dan penyangga tangan sebagai pembantu terapi, untuk meluruskan tangan kakinya. Meski terbantu dengan BPJS untuk biaya pengobatan, satu hal yang terus menjadi penghalang adalah ongkos transportasi. Belum dengan kebutuhan popok dan susu nya setiap hari.
“Setiap kontrol, saya hanya punya uang 10–20 ribu untuk ongkos. Saya tidak memikirkan nanti makan apa, yang penting saya bisa membawa anak saya ke rumah sakit,” tutur Bu Titi lirih.
Suaminya, Pak Samsuri, bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tak menentu. Dulu Bu Titi sempat memiliki warung kecil, namun terpaksa tutup karena kehabisan modal. Sekarang hanya usaha membuat kue, itu pun kalau ada yang pesan.
Meski begitu, ia tak pernah berhenti bersyukur. Baginya, selama anak-anaknya masih bisa makan, sekolah, dan Arkan tetap bisa berobat, itu sudah cukup.
Makan sekali sehari sudah menjadi kebiasaan. Pernah suatu waktu, mereka hanya memiliki uang sepuluh ribu rupiah. Uang itu dibelikan satu potong ayam crispy yang dimakan bersama dengan nasi oleh seluruh anggota keluarga, atau hanya mie instan dan satu butir telur untuk dibagi bersama. Namun yang lebih menyakitkan, bukan hanya soal ekonomi, namun datang dari sanak keluarga.
“Tetangga banyak yang baik Pak, tapi ada keluarga sendiri yang menghina Arkan karena belum bisa berjalan dan bicara, padahal mereka tahu kondisi Arkan dari lahirnya bagaimana” ucap Bu Titi sambil menahan air mata.
Meski dihina, meski diremehkan, Bu Titi tidak pernah berhenti. Ia tetap berdiri, tetap menguatkan hati, demi kesembuhan sang buah hati dan masa depan kakak-kakanya Arkanza.
Sahabat Kebaikan, kisah Bu Titi adalah potret nyata kasih sayang seorang ibu. Di tengah keterbatasan, ia tidak menyerah. Di tengah luka hati, ia tetap melangkah. Kini, Bu Titi hanya butuh satu hal, yakni dukungan agar bisa terus membawa Arkanza berobat tanpa harus bingung memikirkan ongkos perjalanan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk segala kebutuhan pengobatan Arkanza, dan juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga lainnya yang selama ini belum tercukupi. Selain itu akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya dibawah naungan Yayasan Ruang Harsa Bestari.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
