Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign PILU Sering Kelaparan Anak Aceh Ini Tetap Berjuang Sekolah

PILU Sering Kelaparan Anak Aceh Ini Tetap Berjuang Sekolah

Rp 0Terkumpul dari Rp 50.000.000
55 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “Putri ingin terus sekolah... Putri ingin jadi guru...” ucap gadis kecil itu lirih, sambil menahan air mata yang tak sanggup lagi dibendung.


  Di usia 12 tahun, Putri seharusnya sibuk belajar, bermain, dan mengejar cita-cita seperti anak-anak seusianya. Namun sejak banjir bandang menerjang kampungnya di Aceh, hidup Putri berubah dalam sekejap. Air bah merenggut banyak hal dari keluarganya, harta benda, rasa aman, hingga sumber penghidupan. Sepeda motor milik orang tuanya yang selama ini digunakan untuk mencari nafkah pun ikut hilang terbawa banjir.


  Kini, Putri harus tumbuh lebih cepat dari usianya. Setiap pagi, ia berangkat ke sekolah bersama adiknya menggunakan sepeda tua yang sudah usang dan sering kempes di tengah jalan. Meski harus menempuh perjalanan dengan segala keterbatasan, Putri tetap berusaha hadir di kelas dan belajar sebaik mungkin. Di dalam hatinya, tersimpan satu mimpi sederhana namun besar, untuk menjadi seorang guru.


  Sayangnya, mimpi itu kini berada di ujung tanduk. Biaya untuk melanjutkan pendidikan ke SMP belum ada. Setiap kali memikirkan masa depannya, Putri sering menangis diam-diam. Ia takut harus mengubur cita-citanya dan berhenti sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya yang semakin sulit.


  Sepulang sekolah, saat teman-teman sebayanya beristirahat atau bermain, Putri justru memikul tanggung jawab yang tak ringan. Ia berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan makanan ringan kepada tetangga.


  Dari berjualan seharian, Putri biasanya hanya membawa pulang sekitar 10 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah, jajan seadanya, dan membantu kebutuhan keluarga. Setelah selesai berjualan, Putri masih harus menjaga kedua adiknya yang lebih kecil. Ia melakukan semuanya apabila ibunya sedang bekerja di ladang milik orang lain.


  Sang ibu, Mardiana, hanya bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar 20 ribu per hari, itu pun jika ada yang membutuhkan tenaganya, mengingat mau bercocok tanam pun airnya susah didapat dan harus membeli. Penghasilan tersebut tentu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terdiri dari empat orang anak.


  Sementara itu, ayah Putri merantau menjadi buruh serabutan. Dalam kondisi normal, ia hanya mampu mengirim sekitar 300 ribu untuk keluarga. Namun pasca banjir, kondisi ekonomi di lingkungan mereka ikut lumpuh. Selama dua bulan penuh, ayah Putri bahkan tidak memiliki pekerjaan sama sekali.

  Akibatnya, keluarga ini semakin terpuruk. Biaya sewa rumah telah menunggak hingga enam bulan. Kebutuhan sehari-hari tak lagi mampu dipenuhi dengan layak.


  "Saya bisa tahan lapar, tapi anak-anak tidak bisa. Kalau makanan habis, saya cuma bisa bilang, 'Sabar ya Nak...” ungkap Bu Mardiana dengan mata berkaca-kaca.


  Ada hari-hari ketika beras benar-benar habis dan tidak ada uang tersisa untuk membeli makanan. Dalam kondisi seperti itu, mereka terpaksa meminta bantuan ke masjid sekitar atau berhutang di warung agar tetap bisa makan. Namun bantuan tidak selalu datang, dan hutang semakin menumpuk.Yang lebih menyedihkan, ketika salah satu anggota keluarga sakit, mereka hanya bisa pasrah. Jangankan berobat ke dokter, membeli obat sederhana pun sering kali tidak mampu.


  Sahabat kebaikan, di tengah segala keterbatasan dan kesulitan yang mereka hadapi, Putri masih berusaha mempertahankan mimpinya. Ia tidak menyerah meski harus berjualan sepulang sekolah, menjaga adik-adiknya, dan hidup dalam kekurangan setiap hari.


  Mari hadirkan harapan baru untuk Putri dan keluarganya. Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id