Pilu Ayah Tiada - Ibu dan Anak Ini Berjuang Hidup dengan HIV

Pilu! Ayah Tiada, Ibu dan Anak Ini Berjuang Hidup dengan HIV.
"Ibu semoga selalu sehat ya, supaya bisa terus jaga aku. Aku sayang ibu."
Kalimat sederhana itu sering diucapkan oleh Tata (nama samaran), seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang belum sepenuhnya memahami kondisi yang sedang ia hadapi.
Di usianya yang masih sangat muda, ia seharusnya bisa tumbuh ceria, bermain bersama teman-temannya, dan mengejar cita-citanya tanpa beban. Namun tanpa ia sadari, ada perjuangan besar yang harus dijalaninya setiap hari.
Tata dan ibunya, Bu Iah (nama samaran), sama-sama hidup dengan HIV, penyakit yang mereka warisi dari sang ayah yang telah meninggal dunia beberapa tahun lalu akibat penyakit tersebut.
Yang membuat hati terenyuh, hingga saat ini anak ini belum mengetahui kondisi yang sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa setiap hari dirinya harus rutin meminum obat yang selama ini dianggap sebagai vitamin.
"Ibu bilang aku harus rajin minum vitamin supaya sehat dan tidak sakit seperti bapak," ujar Tata polos.
Setiap kali mendengar ucapan itu, hati Bu iah terasa sesak. Ada begitu banyak ketakutan yang ia simpan sendiri. Ia takut jika suatu hari anaknya mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia takut jika lingkungan sekitar mengetahui kondisi mereka, dan harus merasakan penolakan seperti yang pernah ia alami.
Saat pertama kali mengetahui dirinya terinfeksi HIV, Bu iah mengaku dunia seolah runtuh. "Saya sedih sekali waktu itu. Rasanya seperti kehilangan harapan. Saya terus bertanya, kenapa ini bisa terjadi pada saya dan anak saya," Ujar bu Iah.
Kesedihan itu semakin berat ketika sebagian tetangga mulai menjauhinya. Tak sedikit yang memberikan stigma dan komentar yang menyakitkan.
"Ada yang bilang suami saya dulu nakal makanya kena penyakit itu. Hati saya sakit sekali mendengarnya. Padahal kami juga sedang berjuang menerima kenyataan ini," ungkapnya.
Meski demikian, hidup harus terus berjalan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bu Iah bekerja sebagai buruh peternakan ayam. Setiap hari ia membersihkan kandang-kandang ayam dengan penghasilan yang sangat terbatas. Penghasilannya hanya sekitar Rp.300.000. Jumlah tersebut tentu sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menunjang kebutuhan kesehatan mereka.
Namun sebagai seorang ibu, beliau tidak pernah menyerah. Ia terus bekerja demi memastikan Tata tetap bisa makan, bersekolah, dan menjalani pengobatan yang dibutuhkan. Baginya, senyum Tata adalah alasan terbesar untuk terus bertahan.
"Yang paling saya takutkan adalah kalau Tata tahu kondisinya, atau kalau teman-temannya sampai tahu. Saya tidak ingin anak saya mengalami penolakan atau dijauhi oleh lingkungan sekitarnya," ujarnya Bu Iah.
"Ibu semoga sehat terus, biar bisa jaga Tata terus. Aku sayang ibu," ungkapTata.
Mendengar ucapan tersebut, Bu iah hanya bisa memeluk anaknya erat-erat sambil menahan air mata. Di tengah segala keterbatasan, Bu Iah memiliki satu harapan sederhana. Jika suatu hari ada rezeki, ia ingin memiliki usaha kecil di rumah agar bisa memperoleh penghasilan yang lebih layak.
Dengan begitu, ia tidak perlu lagi bekerja terlalu berat dan bisa lebih banyak mendampingi Titi yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Ia ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya.
Sahabat Kebaikan, Mari Ringankan Perjuangan Bu Iah dan Tata Hari ini, mereka membutuhkan uluran tangan kita. Bantuan yang diberikan akan sangat berarti untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari, kebutuhan nutrisi, biaya pendidikan, kebutuhan kesehatan, serta modal usaha kecil

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
