Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Di Tengah Gelapnya Dunia Mari Bantu Tunanetra Berjuang Demi Keluarga

Di Tengah Gelapnya Dunia Mari Bantu Tunanetra Berjuang Demi Keluarga

Rp 160.000Terkumpul dari Rp 30.000.000
44 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Di sebuah persimpangan lampu merah di Kota Bandung, seorang lelaki renta berdiri dengan tongkat di tangan kirinya. Di tangan kanannya, ia menggenggam beberapa botol air mineral yang ia tawarkan kepada setiap pengendara yang berhenti.

Namanya Abah Pendi, 65 tahun.

  Dua tahun lalu, hidup Abah berubah selamanya. Putri tercintanya meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit. Kehilangan itu menghancurkan hati seorang ayah. Tangisan tanpa henti yang menyebabkan penglihatan mulai memudar, membuat Abah harus di operasi karna di diagnosa Glaukoma.

  Alih-alih kembali melihat, cahaya di mata Abah justru padam untuk selamanya. Kini ia hidup sebagai penyandang tunanetra total.

  Dunia seakan runtuh, Ia merasa hidupnya telah selesai. Tak ada lagi alasan untuk melangkah ketika ia bahkan tak mampu melihat wajah orang-orang yang dicintainya.

  Namun di balik keputusasaan itu, ada suara yang selalu memanggilnya untuk bangkit.

Suara istrinya.

Dan masa depan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah.

  Abah sadar, meski matanya tak lagi mampu melihat, hatinya masih memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Sejak saat itu, Abah kembali melangkah.

  Setiap pagi hingga sore, dengan hanya berbekal tongkat sederhana dan keberanian yang luar biasa, Abah berjalan menuju trotoar di persimpangan lampu merah Kota Bandung. Di tengah panas yang menyengat, hujan yang mengguyur, dan ramainya kendaraan yang berlalu-lalang, Abah menawarkan sebotol demi sebotol air mineral kepada para pengguna jalan.

Ia tak bisa melihat siapa yang datang.

  Ia hanya mengandalkan pendengaran, hafalan langkah kaki, dan kemurahan hati orang-orang yang bersedia berhenti sejenak.

  Beruntung, sang istri ikut berjuang sebagai buruh cuci dengan upah yang juga sangat terbatas. Dari penghasilan sederhana itulah mereka bertahan hidup dan berusaha mempertahankan pendidikan anak mereka agar tetap bisa sekolah.

  Di balik senyum yang ia berikan kepada setiap pembeli, tersimpan perjuangan seorang ayah yang tak pernah menyerah, meski dunia yang ia lihat telah berubah menjadi gelap.

Hari ini, Abah Pendi tidak meminta belas kasihan.

  Ia hanya ingin terus bekerja, terus berjuang, dan terus menjadi ayah yang mampu menjaga keluarganya.

  Semoga masih ada tangan-tangan baik yang bersedia meringankan langkah Abah, menghadirkan harapan baru di tengah gelap yang kini menyelimuti hidupnya.

  Karena bagi Abah Pendi, secercah kepedulian dari kita bisa menjadi cahaya yang menerangi masa depan keluarganya.❤️

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id