Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bocah Mungil yang Selamat dari Ledakan Gas Maut

Bocah Mungil yang Selamat dari Ledakan Gas Maut

Rp 0Terkumpul dari Rp 50.000.000
98 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Sore itu, 7 Agustus 2026, rona merah magrib baru saja memudar di langit. Di sebuah permukiman padat, Sebuah ledakan hebat bersumber dari tabung gas seketika merobek keheningan malam, mengubah ruang menjadi kobaran api yang mengerikan. Ressa, teman-temannya, serta kerabat keluarga yang berada di sana terjebak tanpa sempat menyelamatkan diri.


  Ressa, bocah perempuan mungil berusia 3 tahun, sedang asyik bermain bersama temannya. Tawa riang khas anak-anak terdengar dari sebuah rumah kontrakan milik saudaranya, yang letaknya hanya beberapa jengkal dari rumah Ressa sendiri.


  Namun, keceriaan itu perlahan tersaput oleh bau menyengat yang menusuk hidung. Aroma gas elpiji yang bocor mulai memenuhi ruangan. Belum sempat mereka menyadari bahaya yang mengintai, takdir buruk bergerak jauh lebih cepat.


  Malam itu berubah menjadi kepanikan massal. Enam orang korban yang terluka parah segera dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Namun, takdir berkata lain untuk sebagian besar dari mereka. Luka bakar yang teramat parah merenggut nyawa empat korban lainnya. Di tengah duka yang mendalam, Ressa dan satu temannya menjadi mukjizat yang tersisa; mereka berhasil bertahan hidup, meski harus membayar harga yang sangat mahal.


  Ressa mengalami luka bakar serius hingga 50-60 persen di sekujur tubuh kecilnya. Kini, sudah hampir tiga minggu lebih bocah malang itu menghabiskan hari-harinya di bangsal rumah sakit. Tubuh mungilnya harus bertahan melewati enam kali operasi besar, dan ia masih membutuhkan serangkaian panjang pengobatan medis demi bisa pulih. Setiap hari adalah perjuangan melawan rasa sakit yang luar biasa bagi bocah sekecil Ressa.


  Di luar dinding rumah sakit, sebuah perjuangan yang tak kalah berat harus dihadapi oleh kedua orang tuanya. Ressa lahir dari keluarga yang kondisi ekonominya sangat memprihatinkan. Ayahnya, Egi, hanyalah seorang buruh sortir paket dengan penghasilan yang tidak menentu.Egi sekarang sudah berhenti bekerja karna harus menunggu dan menjaga ressa di rumah sakit.


  ibunya, Shela, bekerja sebagai buruh cuci dan setrika panggilan. Pekerjaan itu pun paling hanya ada seminggu sekali, itu pun jika ada tetangga yang membutuhkan jasanya. Jika tidak ada, Shela hanya bisa mengandalkan upah harian suaminya yang jauh dari kata cukup.Saat ini mereka belum bisa bekerja Kembali karna harus menunggu dan menjaga ressa di rumah sakit.


  Kini, di hadapan lembaran-lembaran tagihan rumah sakit dan kebutuhan medis yang terus menumpuk, Egi dan Shela hanya bisa saling menguatkan dalam doa. Mereka tidak tahu dari mana harus mencari biaya untuk rangkaian operasi Ressa berikutnya. Di atas ranjang rumah sakit, Ressa masih terus bertahan, menjadi secercah harapan bagi kedua orang tuanya yang kini sedang mengetuk pintu langit dan kebaikan hati sesama.


  Kini, beban mereka semakin menghimpit karena biaya pengobatan Ressa yang tidak sedikit. Mari ulurkan tangan kita untuk meringankan penderitaan dan mengembalikan senyum Amanda dan memberikan secercah harapan bagi keluarga lansia ini.

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id