Bantu Ibu Dan Anak Disabilitas penjual Bumbu Pawon

Di usia 81 tahun, saat lansia lain beristirahat di rumah, Ibu Sumarni masih harus terjaga sejak buta subuh. Dengan jemari ringkihnya, ia meracik bumbu pawon (bumbu dapur) dagangan. Semua ini ia lakukan demi menyambung hidup bersama anak semata wayangnya, Mas Wijiono (37 tahun). Sejak suaminya wafat, mereka hanya tinggal berdua, saling menjaga dalam keterbatasan yang teramat sangat.
Mas Wijiono terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus akibat kecelakaan fisik yang dialami ibunya saat mengandung. Kini, ia hanya bisa beraktivitas dari atas kursi roda. Namun, keterbatasan fisik itu sama sekali tidak mematikan nyali dan baktinya kepada sang ibu.
Setiap hari, Mas Wijiono mengayuh kursi rodanya manual, menempuh jarak hingga puluhan kilometer demi menjajakan bumbu pawon racikan ibunya. Dulu, ia sesekali menjual keripik titipan saudaranya untuk mendapat tambahan seribu dua ribu rupiah. Namun kini, produksi keripik itu terhenti. Mereka saat ini cuma bergantung pada jualan bumbu pawon dengan penghasilan yang sangat memprihatinkan yakni hanya Rp25.000 per hari.
Perjalanan Mas Wijiono di jalanan raya berteman kursi roda bukanlah hal yang mudah. Tidak jarang ia terjebak hujan deras di tengah jalan, sesekali tersungkur dan terjatuh. Bahkan, kisah memilukan pernah menimpanya saat ia ditabrak oleh kendaraan lain hingga terpelanting, lalu ditinggalkan begitu saja tanpa rasa kemanusiaan. Di rumah, Ibu Sumarni yang sudah sepuh hanya bisa menunggu dengan cemas dan doa yang tidak putus. Jika fisiknya sedang kuat, Ibu Sumarni sesekali ikut berjalan di samping kursi roda anaknya, membagi beban yang teramat berat.
Saat ini Waktu tidak berpihak pada mereka dengan fisik Ibu Sumarni yang sudah menyentuh usia 81 tahun terus menurun drastis dan tidak lagi kuat jika harus terus bekerja keras setiap hari. Di sisi lain, keselamatan Mas Wijiono di jalan raya terancam setiap detik. Menempuh puluhan kilometer dengan kursi roda manual di tengah lalu lintas yang padat tanpa pengaman sangatlah berbahaya, terlebih ia sudah pernah menjadi korban tabrak lari. Jika kita menunda bantuan ini, risiko kecelakaan yang lebih fatal atau ambruknya kesehatan Ibu Sumarni yang sudah renta bisa terjadi kapan saja. Mereka tidak bisa terus bertahan dengan Rp25.000 per hari di tengah ancaman jalanan yang keras.
Mas Wijiono tidak pernah meminta-minta, ia hanya memiliki harapan besar demi masa depan dan keselamatan ibunya. Mas Wijiono sangat berharap memiliki kursi roda elektrik agar ia tidak perlu lagi menguras habis tenaga fisiknya untuk mengayuh manual sejauh puluhan kilometer. Ini akan melindunginya dari kelelahan ekstrem dan mempermudah pergerakannya secara mandiri.
Ia juga ingin sekali bisa memindahkan aktivitas jualan mereka ke rumah. Dengan modal usaha ini, Ibu Sumarni tidak perlu lagi kelelahan bersiap sejak subuh untuk mobilitas yang berat, dan Mas Wijiono tidak perlu lagi bertaruh nyawa menghadapi bahaya serta cuaca ekstrem di jalanan raya.
Sahabat Kebaikan mari Ulurkan Tangan, Wujudkan Harapan Mas Wijiono dan Ibu Sumarni sebelum Terlambat!. Penghasilan Rp25.000 sehari tentu tidak akan pernah cukup untuk membelikan baterai kursi roda, apalagi mendirikan modal usaha. Mereka butuh gotong royong dan kepedulian dari kita semua hari ini juga. Sekecil apa pun bantuan Anda, itu adalah pelindung nyawa bagi Mas Wijiono dan jaminan ketenangan di masa tua Ibu Sumarni.
Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunaka untuk Modal usaha, Penunjang Kesehatan seperti Kursi Roda Elektrik dan lain nya, Kebutuhan hidup sehari-hari serta jika terdapat kelebihan dana akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan Penerima Manfaat lain nya yang berada dibawah naungan Program Yayasan Global Sedekah Movement.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
