Bantu Mbah Karsinah Istirahat di Hari Tua

Setiap Hari Berjalan 7 KM demi Sesuap Nasi Bantu Mbah Karsinah (84 Thn) Istirahat di Hari Tua
Perjuangan Mbah Karsinah dimulai saat dunia masih terlelap. Tepat pukul 2 dini hari, dengan jemari yang sering gemetar dan mata menahan kantuk, beliau mulai mengadon beras dan menanak lontong. Satu per satu lontong dibungkusnya secara mandiri menggunakan daun pisang yang harus dibeli, sebab tak ada lagi pohon pisang di sekitar rumahnya.
Pukul 7 pagi, tubuh kecil itu mulai melangkah keluar rumah. Berjalan kaki sejauh lebih dari 7 kilometer menuju pasar. Tak ada kendaraan, tak ada yang mengantar. Hanya kaki renta yang gemetar menyusuri jalanan demi menjajakan lontong buatan sendiri.
Di Pasar Hingga Menyusuri Jalanan
Di sudut pasar, Mbah Karsinah duduk berjam-jam menanti pembeli hingga tengah hari. Jika lontongnya belum habis, beliau tak lantas menyerah. Lontong-lontong itu kembali dipikulnya untuk dijual keliling sepanjang jalan pulang.
Sering kali rasa lelah yang amat sangat membuat langkahnya goyah hingga lontong-lontong dagangannya jatuh ke tanah. Tanpa bisa berkata apa-apa, Mbah hanya memungutnya perlahan sembari menahan perih di dada.
Satu lontong hanya dihargai Rp2.000. Dari harga murah itu, beliau masih harus memotong modal beras dan daun pisang. Keuntungan yang tersisa nyaris tak ada.
Untuk bertahan hidup, Mbah Karsinah sangat berhemat. Beliau tak pernah membeli lauk atau jajan di luar. Bekalnya sehari-hari hanyalah nasi putih polos tanpa lauk, dimakan sedikit demi sedikit agar cukup mengganjal perut hingga malam hari.
Mari Jadi Alasan Mbah Karsinah Mampu Tersenyum Hari Ini
Mbah Karsinah tidak meminta banyak. Beliau hanya ingin bisa makan dan beristirahat tanpa harus memaksakan fisiknya yang makin melemah. Usia 84 tahun bukanlah waktu untuk terus menanggung beban berat sendirian.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
