Mbah Paiyem Abaikan Katarak Demi Rawat Suami Sakit

“Sejak penglihatan saya ketutup katarak, rasanya semua makin buram… tapi saya tetap harus kuat demi Mbah Kakung, kalo bukan saya gak ada lagi yang ngerawat..”
Di usia 81 tahun, Mbah Paiyem harus menerima kenyataan pahit kehilangan penglihatannya karena tak sanggup obati katarak. Di saat yang sama, suaminya Mbah Harto (86) sudah dua tahun terbaring lemah di rumah tua mereka.
Dulu, mereka berdua tetap berjuang bersama. Jalan naik turun bukit demi menjual daun pisang ke pasar, walau tubuh sudah renta. Dari hasil itulah mereka mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang semuanya berubah. Mbah Paiyem tidak bisa melihat, dan Mbah Harto tidak bisa bergerak. Sumber penghasilan mereka pun ikut hilang.
Hari-hari mereka semakin berat. Saat beras habis dan tidak ada uang, Mbah Paiyem hanya bisa meraba jalan ke belakang rumah, mencari apa saja yang bisa dimakan dari kebun kecil. Kadang hanya singkong, kadang berharap ada yang mau menukar daun pisang dengan sedikit beras. Bantuan dari sekitar pun tidak selalu ada.
Keinginan untuk membawa Mbah Harto berobat sebenarnya ada, tapi Mbah Paiyem takut tidak sanggup membayar biayanya. Dalam kondisi serba terbatas, ia tetap memilih bertahan dan merawat suaminya seorang diri, meski harus dilakukan dalam keadaan tidak bisa melihat.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
