Sering Ikat Perut karena Lapar Abah Dono Tak Pernah Berhenti Berjuang

Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk beristirahat bersama keluarga, Abah Dono justru masih harus berjalan kaki berkeliling menjajakan mainan dari pagi hingga sore.
Setiap hari, pria 73 tahun ini berangkat sejak pukul enam pagi, menyusuri jalanan Ciparay hingga Rancaekek demi satu tujuan sederhana, membawa pulang beras agar keluarganya bisa makan. Namun perjuangan Abah Dono tidaklah mudah.
Dari hasil berjualan mainan keliling, ia hanya memperoleh sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 dalam sehari. Jumlah itu bahkan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang mencapai lebih dari Rp850.000 setiap bulan. Karena kondisi ekonomi yang semakin sulit, Abah Dono terpaksa berhutang sekitar Rp700.000 di warung hanya untuk membeli beras. Yang membuat perjuangan ini semakin berat, Abah Dono tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri.
Di rumah sederhana berukuran sekitar 4 x 5 meter, ia hidup bersama sang istri, Ibu Eti, yang tengah berjuang melawan penyakit lambung kronis dan gangguan penglihatan akibat katarak. Hingga hari ini, Ibu Eti belum bisa memeriksakan diri secara layak ke dokter karena keterbatasan biaya.
Setiap kali kondisi sang istri memburuk, Abah Dono hanya bisa menahan cemas karena tak memiliki cukup uang untuk membawa beliau berobat. Tubuh Abah Dono sendiri sudah tak sekuat dulu. Kakinya sering terasa sakit akibat harus berjalan jauh setiap hari saat berjualan. Bahkan, ia pernah terserempet motor ketika mencari nafkah, sementara pengendara yang menabraknya langsung pergi tanpa bertanggung jawab. Meski begitu, Abah Dono tetap kembali berjualan keesokan harinya.
Baginya, berhenti bekerja berarti keluarganya terancam tidak bisa makan. Ada satu kisah yang begitu menyayat hati dari perjuangan Abah Dono. Saat dagangannya tak kunjung laku dan ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan, Abah Dono sering memilih menahan lapar. Bahkan terkadang ia mengikat perutnya dengan tali agar rasa lapar yang menusuk bisa sedikit berkurang.
Bagi sebagian orang, mainan yang dijualnya mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Abah Dono, setiap mainan yang terjual adalah harapan untuk membeli beras dan bertahan hidup satu hari lagi. Cobaan hidup juga pernah datang dalam bentuk kehilangan yang mendalam. Di tengah segala kesedihan dan keterbatasan itu, Abah Dono tetap memilih bertahan dan berjuang.
Abah Dono tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin keluarganya tidak kelaparan. Ia ingin bisa melunasi hutang beras yang menumpuk. Ia ingin istrinya mendapatkan pengobatan yang layak agar tidak terus menahan sakit. Dan jika suatu hari Allah memberi jalan, Abah Dono berharap memiliki modal usaha sembako kecil di rumah agar tak perlu lagi berjalan jauh menjajakan mainan dengan kaki yang semakin renta.
Mari hadirkan harapan untuk keluarga kecil ini. Hari ini, kita bisa menjadi alasan mengapa Abah Dono dan Ibu Eti masih bisa tersenyum menghadapi hari esok. Mari ulurkan tangan dan bantu perjuangan mereka.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
