Kaki Tak Lagi Seperti Dulu Pak Marsono Tetap Berjuang untuk Keluarga

Sejak mengalami kecelakaan kerja, kehidupan Pak Marsono (61) berubah. Salah satu kakinya mengalami perbedaan panjang sehingga kini ia harus berjalan dengan kondisi pincang.
Setelah kecelakaan itu, Pak Marsono kehilangan pekerjaannya. Ia sempat mencoba menjadi tukang parkir, tetapi kemudian kembali harus menghadapi masa tanpa pekerjaan.
Berbagai pengobatan telah ia jalani. Namun hingga pengobatan terakhir, kondisi kakinya belum juga berubah.
Meski begitu, Pak Marsono tidak ingin menyerah begitu saja.
Dengan meminjam gerobak milik seorang teman, ia memberanikan diri berjualan pentol kuah di pinggir jalan. Sesekali ia mangkal di sekitar sekolah, berharap ada pembeli yang datang.
Dalam sehari, penghasilannya tidak menentu. Kadang hanya sekitar Rp70.000–Rp100.000, dan itu masih merupakan penghasilan kotor. Pentol sebanyak 2 kilogram yang dibuat dengan modal sekitar Rp250.000 pun biasanya baru habis dalam waktu tiga hari.
Belakangan, jualannya semakin sepi.
Pak Marsono sering hanya duduk menunggu pembeli. Bahkan ketika dagangan tak kunjung laku, ia terkadang sampai tertidur di tempat jualannya.
“Sering saya, diem begini juga kalau sepi jualan ketiduran saya,” tutur Pak Marsono.
Di balik perjuangannya, ada Bu Warni (61), sang istri yang selalu mendampingi. Jika Pak Marsono berjualan, Bu Warni yang membuat pentol di rumah. Mereka menjalankan usaha kecil itu bersama-sama demi mendapatkan penghasilan.
Bagi Bu Warni, Pak Marsono bukan sekadar seorang suami, tetapi sosok yang selalu berusaha bertanggung jawab kepada keluarganya.
Dengan mata berkaca-kaca, Bu Warni mengungkapkan:
“Ya kasihan... Gimana ya... Pak Marsono ini sosok suami yang sangat-sangat bertanggung jawab. Pokoknya Pak Marsono itu dari awal nikah pastinya pengen membahagiakan keluarganya. Pak Marsono itu kalau di rumah baik... Saya kalau ditanya gini-gini ini bawaannya sedih.” Ucap Bu Warni.
Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar perjuangan yang telah ia saksikan selama hidup bersama suaminya.
Mereka memiliki tiga orang anak. Anak pertama dan kedua sudah berkeluarga, sementara anak ketiga masih bersekolah. Mereka juga kerap membantu menjaga cucu dari anak kedua.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Pak Marsono dan Bu Warni masih menyimpan harapan sederhana. Jika memiliki rezeki lebih, mereka ingin memperbaiki rumah dan kembali memiliki usaha yang lebih baik, seperti berjualan bakmi Jawa atau kerupuk seperti sebelumnya.
Bagi Pak Marsono, keterbatasan pada kakinya mungkin membuat langkahnya tak lagi sama seperti dulu. Tetapi keinginannya untuk tetap bekerja dan membahagiakan keluarga belum pernah berhenti.
Sahabat Kebaikan, mari bantu Pak Marsono dan Bu Warni agar memiliki kesempatan untuk memperkuat usaha dan menjalani kehidupan yang lebih layak.
Donasi Anda adalah bentuk kepedulian yang dapat membantu Pak Marsono kembali berusaha, mempertahankan penghidupan, dan mewujudkan harapan sederhana keluarganya.
Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan Pak Marsono dan keluarganya. Apabila terdapat kelebihan dana, akan dialokasikan untuk subsidi silang program sosial serupa lainnya di bawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
