Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bantu Orang Tua Hidupi Anak Kelainan

Bantu Orang Tua Hidupi Anak Kelainan

Rp 7.447.000Terkumpul dari Rp 110.000.000
35 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Di usianya yang mau menginjak 9 tahun, Dik Okta harus melawan penyakit langka yang bertubi-tubi menyerang sekujur tubuhnya. Awalnya muncul bintik kemerahan disertai rasa gatal yang menjalar kebagian leher. Namun, dalam waktu satu bulan berubah menjadi ruam di sekujur tubuh.


  Kondisi itu membuat Dik Okta tak berhenti merasa gatal dan panas seperti habis terbakar. Setiap 2 jam sekali ia harus menyiram air di tubuh mungilnya dengan semprotan burung, jika tidak ia akan meronta kesakitan dan berdarah.


  Ibundanya bercerita bahwa setiap pagi, anaknya disekolah harus membawa semprotan burung yang berisikan air, kalua tidak membawa okta bakal menangis karena kesakitan.


  Sang ibu sudah berkali-kali membawanya berobat, dalam 1 tahun terakhir ia sampai 20 kali keluar masuk rumah sakit. Tabungannya kian terkuras, namun penyakit Dik Okta tak kunjung sembuh. Sementara ayah hanya penjual tempe keliling, kadang ibu dan okta juga berjualan keliling upahnya hanya 50-100 ribu/hari.


  Kisah serupa juga dialami, Usianya masih 10 tahun, tapi sudah banyak cobaan bertubi-tubi yang menimpa Dek Fariz. ia tidak mempunyai jari tangan dan kaki sejak lahir, Saat dilahirkan pun tubuh Fariz pucat dan bahkan sempat membiru. Fariz lahir dari keluarga yang sangat kekurangan dari segi ekonomi.


  Seiring bertambahnya usia, Fariz mulai menyadari bahwa fisiknya tidak sesempurna anak lainnya.

“Bu, kenapa aku tidak punya tangan dan kaki ?" Tanya Fariz


  Dek Fariz masih duduk di bangku kelas 3 SD, kadang setiap selesai sekolah Dek Fariz jualan balon untuk membantu keluarganya. Dengan kondisi tanpa kedua tangan dan kaki,Fariz sering mendapatkan perlakuan tak mengenakan.

  Dek Fariz tinggal di daerah dataran tinggi, setiap hari kalau brangkat jualan harus melawati perbatuan bahkan ia pernah beberapa kali terjatuh.


  Kini Dek Fariz tinggal bersama ayah dan ibunya diatas pegunungan di pelosok. Untuk menyambung hidup, ayah nya bekerja sebagai buruh serabutan. Meskipun Fariz memiliki kekurangan tapi ia tidak patah semangat dan tetap memanfaatkan Tangan dan kakinya yang tidak sempurna itu untuk melakukan kegiatan lainnya

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id