IDAP 5 PENYAKIT, Ridho Tak Gengsi Rawat Adik

Sepulang sekolah, aku gendong adikku keliling jualan kopi… Biar bisa beli obatnya bulan ini." — Ridho, 16 tahun
Di usia 16 tahun, saat kebanyakan remaja sibuk memikirkan tugas sekolah, bermain bersama teman, atau bercita-cita menjadi apa kelak, Ridho justru menjalani hari-hari yang mungkin terlalu berat bagi anak seusianya. Ia bukan hanya seorang kakak, tapi juga penjaga, pengasuh, sekaligus harapan terakhir bagi adiknya, Salsa, yang kini berusia 6 tahun.
Salsa lahir dengan berbagai kondisi medis berat yang membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya. Sejak bayi, ia divonis menderita Celebral Palsy—gangguan sistem saraf yang menyebabkan otot tubuhnya menjadi sangat kaku dan sulit digerakkan. Namun penderitaan Salsa tidak berhenti di situ. Ia juga mengalami Scoliosis, Hernia, Tumor, dan Epilepsi. Kombinasi penyakit yang saling tumpang tindih ini membuat Salsa tak bisa berjalan, tak bisa bicara, dan hanya bisa terbaring lemah dalam pelukan keluarganya. Untuk bergerak sedikit saja, tubuhnya sering kali bergetar karena kejang yang datang tiba-tiba.
Ayah dan ibu mereka bekerja serabutan dan sering harus pergi ke luar kota demi mencari nafkah. Namun, pekerjaan itu tak menentu. Kadang ada penghasilan, lebih sering tidak. Saat orang tuanya tidak ada di rumah, Ridho-lah yang harus menjaga adiknya. Bahkan ketika ia berangkat ke sekolah atau berjualan sepulang sekolah, ia sering membawa serta Salsa, menggendongnya dengan kain usang karena kursi roda milik Salsa pun hanyalah pinjaman tetangga.
"Saya nggak bisa tinggalin dia di rumah sendirian. Dia nggak bisa ngomong, nggak bisa duduk. Kalau kejang, siapa yang nolong?" ucap Ridho lirih.
Sepulang sekolah, Ridho tak punya waktu untuk bermain atau belajar dengan tenang. Ia langsung mengambil gerobak kopi dan kerupuk yang ia sewa dari tetangga, lalu menyusuri gang demi gang, berjualan keliling sambil menggenggam erat rasa lelah dan lapar. Dalam sehari, ia hanya mampu mendapatkan sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000. Uang itu ia sisihkan untuk membantu membeli obat penghilang kaku otot Salsa yang harganya mencapai Rp 600.000 per bulan—angka yang sangat besar bagi keluarga mereka.
Terkadang, Ridho menangis dalam diam. Bukan karena ia lelah berjualan atau capek bersekolah, tapi karena ia tak ingin gagal menjaga Salsa. Adik kecilnya itu terlalu lemah untuk bertahan sendiri. Ia tak bisa makan sendiri, tak bisa duduk tanpa bantuan, dan hanya bisa tidur dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Jika Ridho tak berada di sisinya, tak ada yang tahu kapan kejang itu akan datang kembali.
“Pernah waktu saya tinggal sebentar buat beli air, pas balik Salsa udah biru bibirnya karena kejang. Sejak itu saya nggak berani tinggalin dia sendirian.”
Ridho tahu betul bahwa Salsa tidak akan bisa bertahan tanpa bantuan. Tubuhnya semakin hari semakin lemah. Kejang datang lebih sering. Scoliosis

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
