Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Juang Bocah Penjual Donat Biayai Sekolah dan Hidupi 3 Adik

Juang Bocah Penjual Donat Biayai Sekolah dan Hidupi 3 Adik

Rp 0Terkumpul dari Rp 70.000.000
61 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Albie, anak berusia 13 tahun yang seharusnya sibuk belajar di bangku SMP. Seharusnya juga ia pulang sekolah, bermain dengan teman, mengerjakan PR, dan bermimpi tentang masa depan. Tapi hidup memberi Albie peran yang jauh lebih berat. Ia harus menjadi pencari nafkah, menjadi penyangga keluarga, dan harus dewasa sebelum waktunya.


  Albie adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ia putus sekolah sejak kelas 5 SD karena tidak ada biaya. Saat itu, Albie harus memilih melanjutkan sekolah atau memastikan adik-adiknya bisa makan dan tetap sekolah. Dengan hati yang besar, Albie memilih untuk berhenti bersekolah dan mencari uang untuk hidup serta memastikan adik-adiknya tetap sekolah.

  Sejak berhenti sekolah, hari-hari Albie dihabiskan dengan berjualan donat keliling. Setiap pagi pukul 06.30, ia mulai berjalan. Hingga sore kadang hingga malam. Jika donat tak habis, ia pulang pukul 7 malam dengan tubuh lelah dan langkah gontai. Harga satu donat Rp2.000 dan Albie hanya mengambil untung Rp500.


  Dalam sehari, penghasilannya sering hanya Rp20.000–Rp30.000. Itu pun tidak sepenuhnya untuk dirinya. Dari uang sekecil itu, Albie masih harus menyisihkan Rp5.000 setiap hari untuk bekal adik-adiknya yang berusia 5 dan 10 tahun, serta membeli susu untuk adiknya yang baru berusia 2 tahun.

  Sering kali, bagian Albie hanya tersisa Rp10.000. Untuk makan pun ia harus berhemat. Jika tak ada uang sama sekali, ia menahan lapar dan mengganjal perut dengan air putih. Itu pun kalau ada uang untuk membeli air minum. Albie bahkan tidak punya botol minum sendiri.

  Sesekali, demi bertahan, Albie bekerja mencuci piring di tukang ketoprak. Dari pagi hingga sore, upahnya Rp35.000. Ia juga pernah menjual kerupuk, dengan keuntungan hanya Rp2.000. Apa pun ia lakukan, selama bisa membawa pulang uang.


  Selain itu, Albie juga bekerja membantu di tukang cuanki: menyiapkan dagangan, mencuci piring, mengantar pesanan, hingga membuat kopi. Dari sana, ia mendapat upah bulanan dan tempat tinggal sederhana. Tapi tanggung jawab Albie tidak berkurang, ia tetap memikirkan adik-adiknya setiap hari.


  Keluarga Albie bukan keluarga yang utuh. Ibunya telah menikah tiga kali dan tidak bekerja.

  Ayah pertamanya hanya mampu mengirim uang Rp30.000–Rp50.000 per minggu. Ayah kandungnya telah berkeluarga lagi. Albie kini tinggal bersama nenek sambungnya di rumah sempit, beralaskan karpet seadanya. Untuk mandi, ia harus pergi ke masjid.

  Di tengah semua itu, Albie menyimpan luka yang jarang terlihat. Ia belum bisa membaca.

  Saat masih sekolah, ia sering dibully karena kondisinya. Selain karena ingin memastikan adik-adiknya bersekolah, Albie juga berhenti sekolah karena biaya. Ia pernah memiliki tunggakan biaya Rp900.000 semasa sekolah.

  Namun yang paling menyayat: Albie masih ingin sekolah. Ia terpaksa rela kehilangan masa kecilnya agar adiknya tetap punya masa depan. Albie pernah pulang larut malam karena donatnya tak laku. Kelelahan membuatnya hampir tertabrak mobil. Pernah pula ia dimarahi dan diusir saat berjualan, pulang ke rumah sambil menangis. Donatnya sering dianggap terlalu kecil oleh pembeli, dan jika dagangan tak habis, ia justru dimarahi pemilik donat. Semua itu ditanggung seorang anak 13 tahun.

  Mimpi Albie sederhana. Ia tidak bermimpi menjadi orang kaya. Ia hanya ingin kembali sekolah dan adik-adiknya pun tetap sekolah. Ia hanya ingin mereka punya pilihan hidup yang tidak ia miliki.

Hari ini, Albie membutuhkan kita. Agar beban hidup Albie

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id