Setahun Aldi Tak Terapi Bu Ani Tak Menyerah Merawat Buah Hati

“Hati saya hancur waktu Aldi koma… tapi saya bersyukur, Allah masih kasih kesempatan Aldi untuk kembali.”
Di usia 36 tahun, Bu Ani harus membagi tenaga untuk merawat tiga anak sekaligus mencari nafkah sebagai buruh cuci dan setrika. Setiap kali ada yang meminta jasanya, Bu Ani hanya mendapatkan sekitar Rp30.000–Rp50.000. Sementara suaminya bekerja serabutan di Tangerang dan hanya mampu mengirimkan uang yang cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Salah satu anak yang paling membutuhkan perhatian adalah Aldi yang mengidap Cerebral Palsy, putra Bu Ani yang kini berusia 3,5 tahun. Aldi terlahir normal. Namun, ketika usianya baru 28 hari, Aldi tiba-tiba mengalami kejang. Dokter menemukan adanya pendarahan di otaknya sehingga Aldi harus menjalani operasi dan sempat mengalami koma selama 5 hari.
Saat itu, Bu Ani mengaku hatinya hancur dan sempat kehilangan harapan. Namun, setelah dokter berusaha melakukan tindakan terbaik, Aldi akhirnya tersadar. Meski pengobatan medisnya telah dinyatakan selesai pada 2025, Aldi masih membutuhkan terapi tumbuh kembang dua kali dalam seminggu karena tubuhnya masih kaku dan ia mengalami cerebral palsy.
Sayangnya, sudah satu tahun Aldi tidak menjalani terapi. Bukan karena Bu Ani menyerah, tetapi biaya dan jarak menjadi penghalang. Rumah Bu Ani berada di pelosok desa, sementara untuk membawa Aldi ke rumah sakit harus menyewa mobil atau ambulans. Jika menggunakan motor, kondisi fisik Aldi tidak kuat. Sekali perjalanan membutuhkan sekitar Rp125.000, sehingga dalam seminggu Bu Ani harus menyiapkan sekitar Rp500.000 hanya untuk transportasi pulang-pergi terapi.
Di tengah keterbatasan, Bu Ani tetap berusaha merawat Aldi sendiri di rumah. Ia memijat tangan dan kaki Aldi agar tidak semakin kaku, mengajaknya berbicara, serta bercanda agar Aldi terus belajar memahami dan merespons keadaan di sekitarnya. Meski tubuh Aldi terlihat kaku, sebenarnya ia masih bisa mendengar dan merespons apa yang dilakukan ibunya.
Namun, perjuangan Bu Ani juga terasa berat ketika mendengar perkataan tetangga yang memandang Aldi berbeda. “Anak kok begitu,” ujar Bu Ani sambil mengingat ucapan yang pernah didengarnya. Perkataan itu membuatnya menangis, tetapi ia memilih tetap kuat demi anaknya.
Kini, Bu Ani hanya ingin satu hal: membawa Aldi kembali menjalani terapi agar tumbuh kembangnya dapat terus dilatih. Jika ada rezeki lebih, Bu Ani juga ingin membuka warung kecil di depan rumah. Dengan begitu, ia bisa tetap mencari penghasilan tanpa harus meninggalkan anak-anaknya.
Sahabat Kebaikan, Bu Ani hanya ingin bisa terus merawat Aldi dan memberinya kesempatan untuk berkembang seperti anak-anak lainnya. Mari bantu Bu Ani agar Aldi bisa kembali menjalani terapi dan mendapatkan kesempatan untuk terus belajar, bergerak, dan tumbuh.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan pengobatan Aldi dan kebutuhan yang lainnya. Selain itu, akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Ruang Harsa Bestari.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
