Hamid Rela Mengubur Cita-cita Demi Merawat Ayah Sakit

"Hampir 24 jam saya beraktivitas, menjaga Abah, selain itu saya juga jualan untuk membantu biaya pengobatan Abah dan sekolah adik-adik." Ujar Hamid.
Hamid saat ini berumur 19 tahun, tapi beban yang dia pikul hampir tak pernah dirasakan anak-anak seumurannya. Ia harus berjualan untuk membantu perekonomian keluarga, Hamid juga harus merawat sang ayah yang sedang sakit keras.
Sebelumya keluarga Hamid mempunyai usaha catering, namun ketika pandemi covid pada tahun 2020 usahanya bangkrut. Setelah usaha keluarganya gulung tikar, Sang Ayah membuka usaha kecil-kecilan yang kini diteruskan oleh Hamid.
Karena penghasilnya tidak mencukupi ditambah sang ayah kini terbaring sakit, dengan terpaksa sang ibu harus bekerja menginap sebagai ART. Hal itulah mengapa Hamid harus menjaga sang ayah.
"Saya dan kedua adik saya terpaksa harus berpisah, karena sudah tidak ada biaya untuk sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Kedua adik saya mondok di pesantren, Alhamdulillah gratis. Tapi saya juga harus memikirkan untuk keperluan mereka di pondok" Ujar Hamid.
Sang Ayah, Pak Ferzy (60 Thn) sudah lama sakit-sakitan, namun 3 bulan terakhir ini kondisinya semakin memburuk, dokter mendiagnosa terdapat tumor ganas di paru-paru sebelah kanannya.
Sebelumnya beliau di rawat di rumah sakit, tetapi karena mempunyai tunggakan BPJS selama 2 tahun yang belum terbayar sekitar 20juta dan juga biaya perawatan yang membengkak hampir 20juta, dengan terpaksa sang ayah di bawa pulang dan kini dirawat seadanya.
"Saya saat ini bingung, uang dari mana harus bayar tunggakan BPJS dan rumah sakit. Saya ingin bawa Abah berobat lagi, tapi hasil jualan dan penghasilan ibu tidak mencukupi" Ujar Hamid sambil menangis.
Selama 3 bulan terakhir ini Hamid rela mengorbankan waktunya demi manjaga sang ayah, padahal cita-cita Hamid ingin sekali mencari pekerjaan demi mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Ia juga bercita-cita menjadi TNI/Polri, namun setelah ikut 2 kali tes setiap tahunnya, Hamid belum lolos.
"Abah lah yang selalu menyemangati Hamid untuk bisa jadi TNI/Polri. Hamid ingin mengangkat derajat keluarga. Abah juga yang selalu menemani Hamid saat ikut tes di setiap tahunnya. Harusnya tahun ini ikut tes lagi, tapi kondisi Abah seperti ini, siapa yang jaga Abah" Ujar Hamid.
Sewaktu Hamid sekolah, ia berjualan roti bakar dan hasil dari jualannya di tabung hingga memiliki sepeda motor. Namun sepeda motor hasil jerih payahnya, terpaksa harus dijual untuk keperluan sehari-hari.
Hamid berjualan tidak jauh dari tempat tinggalnya, sesering mungkin ia harus pulang hanya sekedar melihat kondisi sang ayah, memberi makan, memandikan hingga mengganti popok sang ayah.
Penghasilannya dari jualan tak lebih dari 50ribu sehari, apalagi saat ini musim hujan penghasilannya agak menurun, belum lagi selalu aja ada orang yang berhutang dan tidak membayar jualannya. Besar harapan Hamid ingin sekali membawa sang ayah untuk berobat agar mendapatkan perawatan yang semestinya.
Sahabat Kebaikan, terkadang kita menyerah dengan satu masalah berat yang kita hadapi. Sosok Hamid dan keluarga mengajarkan kita arti perjuangan yang sesungguhnya. Yuk bantu ringankan beban keluarga Hamid agar sang ayah bisa berobat dengan layak dan bantu wujudkan mimpi Hamid.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk biaya pengobatan Pak Ferzy, dan memenuhi segala keperluan keluarga yang selama ini belum tercukupi. Selain itu akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya dibawah naungan Yayasan Ruang Harsa Bestari.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
