Bantu Syawal 17 Tahun Bertahan Hidup dari Transfusi Darah

Syawal, remaja 17 tahun ini, hidup dengan thalassemia, kelainan darah genetik yang membuat tubuhnya tidak mampu memproduksi hemoglobin sehat dalam jumlah cukup. Akibatnya, sel darah merahnya mudah rusak. Tubuhnya sering lelah, pucat, dan ia harus menjalani transfusi darah rutin sejak kecil demi bisa bertahan hidup.
Sejak usia 3 bulan, Syawal sudah mengalami penguningan di sekujur tubuhnya. Saat bayi lain belajar tengkurap dan tertawa, Syawal sudah bolak-balik rumah sakit. Hingga hari ini, rutinitas itu belum berhenti. Rumah sakit seakan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Syawal seharusnya memiliki saudara kembar. Namun takdir berkata lain. Kembarannya telah meninggal sejak bayi. Kini, Syawal tumbuh seorang diri, membawa perjuangan yang bahkan tak semua orang dewasa sanggup menjalaninya.
Di usianya yang beranjak remaja, Syawal tak bisa menikmati masa muda seperti teman-temannya. Ia tidak bisa berlari bebas, tidak kuat bermain bola terlalu lama, dan sering kali harus menahan lelah yang datang tiba-tiba. Meski begitu, sesekali ia tetap memaksa diri membantu sang ayah memungut sampah di lingkungan sekitar.
Ayahnya, Pak Saripudin (43 tahun), bekerja sebagai pengangkut sampah dengan penghasilan sekitar 1,5 juta per bulan. Penghasilan itu harus mencukupi kebutuhan keluarga sekaligus biaya pengobatan Syawal yang tidak sedikit.
Sementara itu, sang ibu, Ibu Heny (42 tahun), mengalami gangguan penglihatan. Penglihatannya rabun akibat kerusakan pada area mata. Dokter menyatakan tidak ada penyakit khusus, namun kerusakan tersebut membuat aktivitas beliau sangat terbatas. Dalam kondisi seperti ini, Ibu Heny tetap setia mendampingi Syawal setiap kali harus menjalani transfusi darah.
Selama ini, Syawal hanya menjalani transfusi darah rutin. Padahal, ia membutuhkan perawatan dan pengobatan yang lebih intensif agar kondisinya bisa lebih stabil dan kualitas hidupnya membaik. Namun, keterbatasan biaya membuat harapan itu belum bisa terwujud.
Sejak kondisinya semakin sering drop dan kebutuhan transfusi darah makin rutin, Syawal terpaksa berhenti sekolah. Dulu, ia masih sempat berangkat meski tubuhnya lemas dan wajahnya pucat. Namun, semakin bertambah usia, daya tahan tubuhnya semakin menurun. Ia kerap izin karena harus ke rumah sakit atau beristirahat di rumah berhari-hari setelah transfusi.
Sahabat Kebaikan, Di tengah keterbatasan ini, Syawal dan kedua orang tuanya hanya bisa berharap, semoga ada kebaikan hati yang tergerak untuk membantunya mendapatkan pengobatan yang lebih layak dan masa depan yang lebih baik.
Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk biaya penunjang kesehatan Syawal serta Pemenuhan Kebutuhan hidup Keluarga. Dan jika terdapat kelebihan dana, akan digunakan untuk Penerima manfaat lain nya serta Program- program yang berada dibawah naungan Yayasan Ruang Harsa Bestari.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
