Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bantu Tina Anak Berusia 11 Tahun yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Bantu Tina Anak Berusia 11 Tahun yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Rp 2.709.000Terkumpul dari Rp 75.000.000
335 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Di sebuah gubuk tua yang sudah lapuk dimakan usia, tinggal seorang nenek bersama cucu perempuannya yang bernama Tina. Gubuk itu berdiri di tepi desa, dikelilingi pohon-pohon liar dan ilalang yang tumbuh tinggi. Sejak usianya baru menginjak dua tahun, Tina telah kehilangan ayahnya untuk selamanya. Ayahnya meninggal dunia dan ibunya pun pergi entah ke mana tanpa pernah kembali. Sejak saat itu, neneknya menjadi satu-satunya sosok yang merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup mereka jauh dari kata cukup.


  Setiap hari, sang nenek pergi ke hutan mencari kayu bakar. Meski tubuhnya sudah renta dan langkahnya tidak lagi kuat, ia tetap memikul beban di pundaknya demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kayu yang ia kumpulkan kemudian dijual atau ditukar dengan beras, minyak, garam, dan kebutuhan pokok lainnya. Hanya itulah cara yang ia miliki untuk bertahan hidup dan merawat cucu tercintanya.




  Namun ketika sang nenek jatuh sakit, Tina yang masih kecil harus mengambil alih tanggung jawab itu. Sepulang sekolah, ia pergi ke hutan dengan langkah kecilnya, membawa karung bekas dan mencari daun kelapa kering serta kayu untuk keperluan memasak. Ia tidak pernah mengeluh meski tubuhnya lelah dan kakinya pegal karena terlalu banyak berjalan. Setiap hari, ia tetap berusaha agar dapur rumah kecil mereka tetap mengepul dan ada makanan untuk neneknya yang terbaring lemah.


  Tidak cukup hanya itu, Tina juga berjualan es dan makanan ringan setelah pulang sekolah. Ia membawa dagangannya dengan tangan kecil yang menggenggam erat plastik berisi es batu, agar tidak cepat mencair. Panas matahari seringkali membakar kulitnya, dan dagangan yang ia bawa terasa semakin berat setiap langkahnya. Namun Tina tidak pernah menyerah. Walau kadang es yang ia bawa tidak habis terjual dan mencair sebelum sampai di rumah, ia tetap bersemangat dan mencoba lagi keesokan harinya.




  Seringkali, ketika tubuhnya tak sanggup menahan lelah, Tina beristirahat di pinggir jalan. Ia duduk diam di bawah rindangnya pohon atau berteduh di bangunan toko kosong yang tak lagi dipakai, hanya untuk mengumpulkan kembali tenaga sebelum melanjutkan perjalanan. Hatinya yang kecil namun tabah menyimpan banyak harapan, meskipun hidup belum pernah berpihak sepenuhnya padanya.



  Ketika hujan turun, penderitaan mereka semakin terasa. Atap rumah yang sudah tua dan rapuh bocor di berbagai sudut. Air hujan menetes ke mana-mana, membuat tanah di dalam rumah menjadi basah dan licin. Dapur mereka pun nyaris roboh, dan hanya bertahan karena ada bambu penyangga yang diberikan oleh tetangga yang peduli. Meski tinggal di rumah yang hampir roboh, Tina dan neneknya tetap bersyukur atas segala hal yang mereka miliki.




  Di tengah segala kekurangan itu, Tina tetap menjalani hidupnya dengan semangat yang tidak mudah padam. Baginya, kebahagiaan nenek lebih penting daripada kesulitan yang ia alami. Ia tumbuh menjadi anak yang kuat, tabah, dan penuh kasih sayang. Dalam kesederhanaan dan ketegaran, Tina dan neneknya membuktikan bahwa cinta dan ketulusan bisa menjadi kekuatan terbesar untuk bertahan dalam hidup yang penuh tantangan.


  #TemanBaik, kita semua tahu bahwa tidak semua anak bisa merasakan kenyamanan dan kemudahan dalam hidup. Seperti Tina, seorang anak tangguh yang hidup bersama neneknya di sebuah gubuk tua dan menjadi tulang punggung keluarga.


Yuk jadi bagian untuk meringankan beban Tina dan neneknya dengan

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id