Berbagi Kasih untuk Akong Awi 114 Tahun

Usia Akong Awi sudah 114 tahun. Namun di masa tuanya, ia harus hidup dalam kesepian, kelaparan, dan tubuh yang kini lumpuh. Setiap hari, ia hanya bisa merangkak karena pengapuran tulang, sembari menahan sakit lambung karena terlalu sering menahan lapar.
Selama ini, Akong hanya ditemani keponakannya, Ama Tuti (65 tahun), yang juga sudah renta dan tidak mampu bekerja. Mereka hidup hanya dari belas kasih tetangga, dan makan seadanya—kadang nasi basi, kadang sebungkus mie instan yang dibagi dua agar bisa bertahan dua hari.
Seumur hidup, Akong tidak pernah menikah. Tidak ada anak atau cucu yang menemani hari tuanya. Ia tinggal di rumah kayu reyot bantuan tetangga yang bisa ambruk kapan saja. Saat musim hujan datang, ia hanya bisa berdoa karena tubuhnya tak lagi sanggup lari mencari perlindungan.
Akong Awi hanya bisa berdoa agar Tuhan Yesus memberinya sedikit kekuatan dan umur panjang, agar ia masih sempat memperingati Paskah seperti saudara-saudara seimannya yang lain. Namun dengan kondisi rumah yang hampir roboh, makanan yang tidak layak, dan tubuh yang makin lemah—tak ada jaminan Akong bisa merayakan Paskah tahun ini dengan damai.
Meski tak bisa banyak bergerak, Akong Awi tidak pernah berhenti berdoa. "Tuhan Yesus, lindungi umat-Mu," katanya lirih setiap malam, berharap akan ada keajaiban. Di usia senja, ia tetap memegang teguh imannya. Seperti tertulis dalam Mazmur 71:9, “Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.”
#TemanBaik, Paskah adalah tentang pengorbanan dan kasih. Mari kita wujudkan makna Paskah itu dalam kehidupan Akong Awi. Jadilah perpanjangan tangan Tuhan untuk memberinya tempat tinggal yang aman, makanan yang layak, dan sedikit kebahagiaan di usia senjanya. Bantu Akong Awi dengan cara Klik tombol "DONASI SEKARANG";

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
