Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bantu Mak Nonok Lansia Difabel untuk Bertahan

Bantu Mak Nonok Lansia Difabel untuk Bertahan

Rp 1.146.390Terkumpul dari Rp 50.000.000
8 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

“Sebagian hasil penjualan akan disisihkan untuk korban bencana di Sumatra.”

  Dari pagi hingga siang, ia berjualan Kue Kering dari satu tempat ke tempat lain sejauh kurang lebih 3km.


  Penghasilannya pun tidak menentu kadang hanya Rp50.000, kadang bisa mencapai Rp80.000 jika dagangannya laku dan tu penghasilan kotor belum dipotong untuk modal pembuatan Kue keringnya. Tak jarang, Mak Nonok pulang dengan hasil yang sangat minim.

  Di usia 59 tahun, Mak Nonok menjalani hidup dengan keterbatasan fisik sejak lahir. Ia adalah seorang lansia difabel.


  Meskipun saat Mak Nonok sedang berjualan tak sedikit yang menatap fisiknya penuh dengan sinis, bahkan ada juga anak kecil yang berceletuk,

  “ Sibuntung….” Ungkap Mak Nonok dengan kecewa namun yang ngomong Anak kecil jadi Ia Pun tak bisa apa-apa.

  Namun keterbatasan itu tak pernah membuatnya lemah atau bergantung pada belas kasihan siapa pun.


  Setiap pagi, Mak Nonok bangun lebih awal. Dengan kondisi fisik yang terbatas, ia menyiapkan jajanan kue kering untuk dijajakan keliling.

  Mak Nonok tidak hidup sendirian. Ia tinggal bersama kakak kandungnya, Mak Aning, 73 tahun. Sejak kecil, Mak Aning lah yang merawat Mak Nonok, terutama sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia.

  “Dulu waktu Nonok masih bayi, banyak orang yang menghina fisiknya. Katanya anak seperti ini cuma bakal nyusahin hidup, buang aja kesungai” ujar Mak Aning lirih.


  Meski demikian kasih sayang Mak Aning tak pernah pudar. Hingga kini, di usia senjanya, ia tetap menjadi satu-satunya keluarga yang merawat dan menemani Mak Nonok di sebuah rumah sempit peninggal kedua Orang tuanya.

  Di tengah perjuangannya memenuhi kebutuhan sehari-hari, hati Mak Nonok justru tetap terbuka untuk orang lain. Saat mendengar kabar saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatra, Mak Nonok merasa sangat sedih. Ia tahu betul rasanya hidup dalam keterbatasan dan kehilangan.


  Tanpa banyak bicara, Mak Nonok melakukan hal kecil namun penuh makna. Di lapak jualannya, ia menuliskan sebuah pesan sederhana.

  Meski penghasilannya pas-pasan, Mak Nonok tetap menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah. Baginya, berbagi bukan soal seberapa besar yang dimiliki, tetapi seberapa tulus niat di dalam hati.

  “Kalau kita masih bisa bantu orang lain, berarti Allah SWT masih kasih kita kemampuan,” ucap Mak Nonok pelan.

  Dengan fisik terbatas, Mak Nonok tetap berjualan keliling demi kakaknya dan Demi sebuah kepedulian untuk membantu para Korban bencana banjir bandang yang terjadi di Aceh dan Sumatera.


   “Kalau bukan saya yang keluar cari uang, siapa lagi? Mak Aning sudah tua. Kasihan kalau masih harus bekerja,” ujarnya.

  Mak Nonok tidak memiliki suami, tidak memiliki anak. Dalam hidupnya, hanya Mak Aning yang ia miliki.

   “Saya cuma punya Mak Aning. Tidak punya siapa-siapa. Saya sayang banget sama Mak Aning,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

  Hari ini, Mak Nonok memiliki satu harapan sederhana yakni memiliki motor roda tiga agar ia bisa berbelanja bahan dagangan, berjualan keliling, dan beraktivitas dengan lebih aman serta layak.

  Mari kita bantu Mak Nonok seorang lansia difabel yang di tengah keterbatasannya masih sanggup bekerja, berbagi, dan mengajarkan kita arti kepedulian yang sesungguhnya.



  Dsiclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan sepeda motor roda tiga, memberikan Modal Usaha, Pemenuhan kebutuhan sehari-harinya Mak Nonok, Pemenuhan penunjang kesehatan nya dan jika terdapat kelebihan dana, akan digunakan untuk pemenuhan

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id