Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Booking Pahala Lewat Borong Dagangan Anak Yatim
Foto campaign Booking Pahala Lewat Borong Dagangan Anak Yatim

Booking Pahala Lewat Borong Dagangan Anak Yatim

Rp 170.262.032Terkumpul dari Rp 250.000.000
80 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “Aku dan orang yang menanggung anak yatim/anak yang telantar kedudukannya di surga seperti ini,” kemudian beliau ﷺ mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari)


  Pundak Kecil yang Dipaksa Menopang Takdir Yatim Piatu Di sebuah kampung kecil yang jauh dari riuh kota, hiduplah seorang anak perempuan bernama Natasya. Di usianya yang masih sangat muda—usia di mana anak-anak lain sedang hangat-hangatnya didekap kasih sayang orang tua—Natasya justru harus menelan pil pahit kehidupan. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, dunianya runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi pelukan hangat ibu yang menenangkan, tidak ada lagi sosok ayah yang melindungi.


  Yang tersisa kini hanyalah sebuah rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan dan nyaris roboh, serta seorang adik kecil yang setiap hari bergantung sepenuhnya pada pundak kecil Natasya untuk bertahan hidup.


  Menahan Lapar di Sekolah, Jualan Keliling dengan Sepatu Rusak Sebelum fajar benar-benar terbit, saat matanya masih terasa berat, Natasya sudah harus terjaga. Dengan tubuh mungilnya, ia menyiapkan makanan ringan seadanya untuk dijual keliling kampung demi membeli beras. Panas terik menyengat kulit dan derasnya hujan yang membasahi baju sudah menjadi teman sehari-harinya.


  Meski hidup terlunta-lunta, Natasya tetap memaksakan diri untuk sekolah. Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan ini. Namun, pergi ke sekolah adalah perjuangan batin yang berat. Seragamnya sudah lusuh memudar, tas sekolahnya robek, dan sepatunya hampir lepas karena terlalu sering dipakai berjalan jauh. Saat bel istirahat berbunyi dan teman-temannya jajan di kantin, Natasya hanya bisa menunduk menahan lapar. Waktu istirahat itu justru ia gunakan untuk berjalan menawarkan dagangannya ke sana kemari.


  Upah yang ia bawa pulang dari fajar hingga petang sering kali hanya berkisar 15 ribu hingga 20 ribu rupiah saja sehari. Uang sekecil itu sering kali hanya cukup untuk membeli sedikit beras tanpa lauk. Alhasil, Natasya dan adiknya sudah terbiasa bertahan hidup hanya dengan makan nasi putih ditaburi garam atau kecap manis seadanya.


Rasulullah ﷺ bersabda:

  “Barangsiapa yang meringankan beban orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)


  Tangisan Sunyi di Tengah Malam dan Kerinduan pada Orang Tua Sepulang sekolah, perjuangan Natasya belum usai. Ia kembali menyusuri jalanan kampung hingga senja menjelang malam demi memastikan adiknya tidak kelaparan. Di balik wajahnya yang selalu berusaha tersenyum tegar di depan sang adik, Natasya menyimpan luka yang amat dalam.


  Malam hari, di dalam rumah mereka yang gelap dan dingin, menjadi waktu paling menyakitkan bagi Natasya. Setelah adiknya tertidur lelap, air mata yang ia bendung seharian akhirnya tumpah ruah dalam keheningan. Ia menangis tersedu-sedu, memendam rindu yang teramat sangat kepada mendiang ayah dan ibunya. Di tengah ketakutan akan masa depan dan ancaman putus sekolah, Natasya hanya bisa bersujud, memohon kekuatan kepada Sang Pencipta agar ia dan adiknya diberi kekuatan untuk terus menyambung nyawa.


  #TemanBaik, Natasya adalah potret nyata anak kekasih Allah yang sedang diuji dengan sangat hebat.



Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id