Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Tukang Pijat Tunanetra Hidup Sebatang Kara

Tukang Pijat Tunanetra Hidup Sebatang Kara

Rp 0Terkumpul dari Rp 77.000.000
92 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  LANGKAH DALAM GELAP BU SANI, TUKANG PIJAT TUNANETRA YANG SERING MENAHAN LAPARSaat banyak orang dapat menjalani hari dengan nyaman, Bu Sani justru harus berjuang melawan kerasnya hidup dalam gelap yang tak pernah berakhir. Sejak lahir, Bu Sani tidak pernah sekalipun melihat indahnya dunia. Kedua matanya tidak mampu menangkap cahaya.

  Namun keterbatasan itu tidak pernah membuatnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang dimiliki di usia senja, Bu Sani tetap memilih bekerja demi bertahan hidup. Bu Sani hidup sebatang kara. Tak ada suami yang mendampingi, tak ada anak yang merawat, dan tak ada keluarga tempat bersandar. Setiap pagi dengan berbekal sebuah tongkat kayu, Bu Sani melangkah perlahan menyusuri jalanan untuk menawarkan jasa pijat dari rumah ke rumah. Langkahnya tidak mudah. Sebagai seorang tunanetra, ia harus meraba setiap jalan yang dilaluinya. Jalan berlubang, kendaraan yang melintas, hingga risiko terjatuh selalu mengintai di setiap perjalanan. Namun demi bisa makan, Bu Sani tak memiliki pilihan lain. "Kalau tidak keluar cari pelanggan, saya tidak bisa makan," tuturnya lirih.

  Jika beruntung, ada orang yang bersedia menggunakan jasanya dan ia akan menerima upah sekitar Rp20.000 untuk sekali memijat. Namun lebih sering, Bu Sani harus pulang tanpa membawa uang sama sekali karena tak seorang pun mau gunakan jasanya.Ketika hari-hari sepi itu datang, Bu Sani hanya bisa menahan lapar. Persediaan makanan di rumahnya selalu terbatas. Seringkali ia hanya makan nasi kering yang ditaburi sedikit garam untuk mengganjal perut. Lauk pauk bergizi adalah kemewahan yang sudah lama tidak ia rasakan.

  "Kalau tidak ada yang mau dipijat, saya tidak pegang uang sama sekali. Mau tidak mau, apa yang ada di dapur saja yang dimakan, biarpun cuma nasi kering pakai garam, yang penting perut tidak kosong," ucap Bu Sani sambil berusaha tersenyum menahan air mata.Usia yang sudah renta dan dalam kondisi tidak dapat melihat, Bu Sani masih harus berjalan jauh setiap hari hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Tubuhnya semakin lemah, tenaganya terus berkurang, tetapi ia tetap harus memaksakan diri. Bu Sani membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, biaya hidup, pemeriksaan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya.

  Perjuangan Bu Sani sudah terlalu berat untuk dijalani seorang diri. Mari menjadi mata, kekuatan, dan sandaran bagi Bu Sani di masa senjanya. Jangan biarkan beliau terus melangkah sendirian dalam gelap dan kelaparan.Sedikit bantuan dari kita dapat menghadirkan makanan yang layak, meringankan beban hidupnya, serta memberikan harapan bahwa Bu Sani tidak sendiri.

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id