fisik bungkuk dan bertongkat simbah berjuang pijat demi anak sakit
Sekarang sepi, Nak… Kadang seminggu cuma ada 2 sampai 3 orang yang minta dipijat. Hasilnya cukup tak cukup cuma buat makan sama Genduk…” ucap Mbah Rantilah lirih.
Di usianya yang sudah menginjak 85 tahun, Mbah Rantilah seharusnya bisa beristirahat menikmati masa senjanya. Namun, takdir berkata lain. Dengan tubuh yang kian membungkuk, pendengaran dan penglihatan yang makin kabur, serta langkah kaki yang harus ditopang sebatang kayu, Mbah Rantilah masih harus memikul beban hidup yang amat berat.
Bukan anak yang merawat ibu, melainkan sang ibu yang berjuang merawat anaknya.
Sudah 5 tahun terakhir, putri tercintanya (“Genduk”) hanya bisa terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Rasa sakit akibat lambung kronis menyiksanya setiap hari. Jangankan untuk berobat ke rumah sakit, untuk sekadar beranjak dari kasur pun ia tak mampu.
Duka ini berawal semenjak Genduk ditinggal oleh suaminya. Rasa trauma dan depresi berat membuat pola makannya tak teratur hingga akhirnya menggerogoti kesehatannya. Penderitaan Mbah Rantilah makin lengkap karena anak-anaknya yang lain telah terlebih dahulu berpulang ke Rahmatullah. Kini, hanya Genduk satu-satunya harta dan harapan yang tersisa bagi Mbah Rantilah.
Untuk bertahan hidup dan memberi makan sang anak, Mbah Rantilah mengandalkan jasanya sebagai tukang pijat tradisional di kampung. Namun, karena tenaganya tak lagi sekuat dulu akibat usia yang kian senja, pelanggan kini makin jarang datang. Sekali memijat, Mbah Rantilah biasanya hanya diberi upah Rp30.000 hingga Rp50.000—jumlah yang sangat kecil dan tak tentu kapan didapatkannya.
Tak pernah ada kata berobat dalam kamus hidup mereka selama 5 tahun ini. Hasil memijat yang tak seberapa itu sering kali tak cukup, bahkan hanya untuk membeli beras dan lauk pauk seadanya.
Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, Mbah Rantilah tak pernah menyerah. Selagi nafas masih berhembus dan kaki masih sanggup melangkah dengan bantuan tongkatnya, ia akan terus berjuang agar sang anak bisa tetap makan.
Mbah Rantilah dan ketulusan hatinya membutuhkan uluran tangan kita. Jangan biarkan lansia 85 tahun ini berjuang sendirian di masa senjanya. Mari Bantu Mbah Rantilah dan Anaknya

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
