Miris Anak SLB Cucu Lansia Tukang Kicimpring di Bully

“Kumaha ieu murangkalih engkéna, mun tos teu aya Emak?… hawatos melangna Emak mah,” ungkap Mak Endah penuh kekhawatiran jika Ia tiada.
Mak Endah (86 tahun) merupakan seorang penjual kicimpring (keripik singkong). Ia tinggal di rumah peninggalan suaminya yang sudah bocor, bersama dua cucu berkebutuhan khusus, yaitu Yuni dan Yusuf.
Yuni dan Yusuf mengidap Tunagrahita, yaitu kondisi khusus di mana IQ berada di bawah rata-rata. Akibatnya, mereka sulit memahami ucapan orang lain, sulit menerima pelajaran di sekolah, dan tidak mudah diajak berkomunikasi. Selain itu, emosi mereka sering tidak stabil, terutama Yuni yang kerap marah-marah tanpa sebab.
“Gara-gara ngehuleng emut dibully, hoyong namah ngabales tapi teu bisa da sieun, jadi ameuk-ameukan,” jawab Yuni saat ditanya mengapa ia sering marah kepada Emak.
Karena kondisi tersebut, Yuni dan Yusuf sering menjadi korban perundungan di lingkungan tempat tinggal mereka, terutama saat pulang sekolah. Mereka sering dihina dengan sebutan gila, ditendang, didorong, dipukul, bahkan disiram air hingga tas dan buku basah.
Yuni juga pernah ditarik jilbabnya sampai robek, rambutnya dijambak, dikurung di kamar mandi hampir seharian, dilempar batu hingga berdarah, bahkan sampai tidak sadarkan diri.
Yuni tidak berani melawan. Ia takut jika membalas, neneknya yang sudah tua justru menjadi sasaran. Apalagi para pelaku sering mengancam akan mengadu kepada orang tua mereka, hingga orang tua tersebut memarahi Mak Endah.
Selain dibully, Yuni juga pernah difitnah mencuri. Perundungan ini ia alami sejak SD di sekolah umum, SLB tingkat SMP, hingga sekarang di SLB tingkat SMA. Meski saat ini perundungan tidak separah dulu, luka di hatinya masih ada.
Akibat perundungan yang terus dialami, Yuni mengalami trauma berat. Ia sering menangis, menjadi pendiam, menyendiri, dan kerap marah tanpa sebab kepada neneknya. Kondisi terberatnya, Yuni pernah mengalami depresi berat hingga sempat ingin mengakhiri hidupnya.
“Laillahaillallah… naa Abi téh kudu gantung diri kitu, kudu ngakhiri hirup Abi sorangan kitu, da Abi téh nyeri hate pisan unggal poe atuh… naa kudu kumaha Gusti…,” ucap Yuni sambil menahan amarah dan kesedihan.
Kondisi Yuni dan Yusuf merupakan bawaan sejak lahir. Namun oleh ibu kandungnya, kondisi tersebut dianggap sebagai cacat. Saat Yuni berusia 7 tahun dan Yusuf 4 tahun, ibu mereka pergi meninggalkan keluarga.
Saat itu, kondisi keluarga sedang sangat berat karena ayah mereka baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas, yang membuat salah satu tangannya patah dan harus dipasang pen hingga sekarang.
Hingga kini, saat Yuni berusia 15 tahun dan Yusuf 12 tahun, mereka belum pernah bertemu lagi dengan ibu mereka.
“Mama… Dede hayang pendak sareung Mama…,” lirih Yusuf. Dan saat ditanya ingin memberi apa jika bertemu ibunya, Yusuf menjawab polos,
“Hoyong mere bolu…”.
Bagi orang lain, jawaban itu mungkin terdengar aneh, mengingat tubuh Yusuf besar dan usianya sudah 12 tahun. Namun dengan kondisi tunagrahita yang ia alami,

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
