Dihina Pengemis Padahal Berjualan Yuk Bantu Abah Suhendar Hidup Layak

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari & Muslim)
Bertahan di Tengah Kerasnya Kota Di usia senja yang menginjak 65 tahun, saat seharusnya beristirahat di rumah, Abah Suhendar justru harus berjuang sendirian menaklukkan kerasnya jalanan kota. Tanpa sanak saudara di sisinya, Abah menyambung nyawa dengan berjualan alat cukur janggut dan korek api.
Tubuhnya yang sudah renta dan rapuh dipaksa berjalan kaki hingga puluhan kilometer setiap hari. Abah enggan naik angkutan umum, karena keuntungan yang tak seberapa bisa habis hanya untuk membayar ongkos.
Tidur di Emperan, Berteman Hujan Perjuangan Abah seringkali berbuah pahit. Dalam sehari, Abah biasanya hanya mengantongi untung Rp12.000 hingga Rp20.000. Apalagi saat musim hujan tiba, dagangannya kian sepi pembeli. Kepedihan Abah tak berhenti di situ; ia tak memiliki tempat tinggal. Jika malam menjemput, Abah hanya bisa menumpang tidur di lapak jualan orang lain, beralaskan lantai dingin dan beratapkan langit.
Menjaga Kehormatan di Tengah Hinaan Meski hidup dalam keterbatasan luar biasa, Abah Suhendar memiliki prinsip hidup yang mulia. Ia seringkali dipandang sebelah mata dan dituduh sebagai pengemis oleh orang-orang yang lewat.
Namun, dengan senyum ketabahan, Abah hanya berkata:
“Abah sering dibilang pengemis nak, tapi gapapa Abah ikhlas aja. Yang penting Abah ga minta-minta buat makan, Abah terus berjuang.”
Wujudkan Mimpi Abah untuk Hidup Layak Abah Suhendar adalah potret nyata tentang harga diri dan kerja keras. Di balik tubuh kurusnya, tersimpan keinginan sederhana: ia ingin memiliki modal usaha yang lebih layak agar tidak perlu lagi luntang-lantung di jalanan dan bisa tidur di tempat yang lebih manusiawi.
#TemanBaik, mari kita patungan untuk memuliakan masa tua Abah Suhendar

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
