Mas Hariadi Merangkak Demi Sesuap Nasi

MERANGKAK DI ATAS ASPAL PANAS, HARGA DIRI SANG PENJUAL LAYANG-LAYANG"
Di balik riuhnya kota yang tak pernah tidur, ada sebuah perjuangan sunyi yang nyaris tak terlihat oleh mata yang terburu-buru. Di sanalah Mas Hariadi, seorang penyandang disabilitas fisik, menuliskan kisah ketangguhannya di atas permukaan aspal yang membara. Tanpa keluarga yang menemani, tanpa sandaran untuk berkeluh kesah, ia menjalani hari-harinya dalam kesendirian yang tabah. Bagi anak-anak yang mengerumuninya, layang-layang berwarna-warni itu adalah simbol kebebasan dan keceriaan. Namun bagi Mas Hariadi, tiap bilah bambu dan kertas yang ia rakit adalah napas untuk bertahan hidup. Tanpa kursi roda atau alat bantu yang memadai, ia terpaksa merangkak, menyeret tubuhnya di atas aspal jalanan demi menjajakan karyanya.
Setiap jengkal pergeseran tubuhnya adalah perjuangan melawan rasa nyeri dan panas yang menyengat kulit. Meski begitu, Mas Hariadi pantang menengadahkan tangan. Di tengah keterbatasan yang begitu nyata, ia memilih memeluk harga dirinya erat-erat. Ia lebih memilih bermandikan keringat sebagai pekerja daripada harus mengemis belas kasihan.
Kehidupan Mas Hariadi adalah tentang bagaimana mencukupkan yang tak pernah cukup. Dengan penghasilan yang seringkali hanya menyentuh angka Rp15.000 per hari, ia harus memutar otak untuk membayar tempat tinggal sederhana dan mengisi perutnya. Seringkali, jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu porsi makanan yang layak.
Namun, yang lebih menyakitkan dari rasa lapar adalah rasa cemas yang menghantui setiap malam. Di dalam sunyinya tempat tinggal, ia sering terbangun dan bertanya pada diri sendiri:
"Bagaimana kalau besok kaki dan tangan saya tidak kuat lagi merangkak? Bagaimana saya bisa makan jika tubuh ini menyerah?" Pertanyaan itu adalah bayang-bayang gelap yang selalu mengikuti langkah merangkaknya.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
