Hati yang Tulus. Apresiasi Pejuang Porter Kereta

Hidup digantung penghasilan tak tetap, padahal usia sudah senja.
Stasiun kereta menjadi saksi perjuangan Abah Cecep (62) sudah lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai porter stasiun. Setiap hari, dari pagi hingga malam, beliau memanggul koper dan barang bawaan penumpang demi bisa membawa pulang uang untuk keluarga.
“Pak, boleh saya bantu untuk bawakan kopernya ke peron?”
Namun sekarang, penumpang lebih memilih membawa barangnya sendiri, membuat pekerjaan porter menjadi semakin jarang. Pendapatan Abah pun turun drastis, hanya 25ribu per hari, bahkan tidak dapat pelanggan pun abah sering rasakan.
Meski matanya semakin kabur akibat katarak, Abah tetap memaksa bekerja. Jika ia berhenti, keluarganya tak bisa makan. Sering kali, Abah dan istrinya hanya makan nasi dengan taburan garam karena tak ada lauk.
Penderitaan keluarga Abah semakin berat. Sang istri mengidap penyakit jantung dan sudah 3 bulan tak mampu berobat ke rumah sakit karena tak ada biaya. Sementara itu, anak mereka masih bersekolah dan menjadi salah satu tanggungan utama Abah.
Abah hanya punya satu mimpi, memiliki modal untuk membuka warung kecil di rumah. Dengan begitu, ia tak perlu lagi memanggul beban berat di stasiun dengan penglihatan yang semakin memburuk.
#TemanBaik, mari beri harapan baru agar Abah Cecep dan Porter lainya bisa hidup lebih layak tanpa harus terus berjuang di tengah sakit dan usia senja.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
