Jemput Amal Jariyah melalui Sedekah Yatim

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim kedudukannya di surga seperti ini,” kemudian Rasulullah ﷺ mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari)
Wafat Saat Menolong Sesama: Pengorbanan Terakhir Sang Ayah Niat mulia untuk membantu sesama menjadi aksi pengorbanan terakhir dalam hidup ayah Satria. Saat melihat dua perempuan kesulitan mengendarai sepeda motor di jalanan menanjak dan curam, sang ayah tanpa ragu berhenti untuk membantu. Namun malang tak dapat ditolak, sepeda motor yang dikendarainya kehilangan kendali hingga menabrak tembok pembatas jurang. Luka berat membuat ayah Satria menghembuskan napas terakhirnya.
Di usianya yang baru 7 tahun, Satria harus kehilangan sosok pelindung, tempat bercerita, dan tulang punggung keluarga. Rumah yang dulu dipenuhi hangatnya tawa, kini berubah menjadi keheningan. Saat melihat teman-teman seusianya berangkat sekolah sambil menggandeng tangan ayahnya, Satria hanya memandang dalam diam. Tak ada lagi tangan yang menggenggamnya, tak ada lagi pelukan hangat, dan tak ada lagi suara lembut yang berpesan, "Belajar yang rajin ya, Nak."
Rumah Tripleks Lapuk dan Buruh Pemetik Teh Kini hanya ada Satria dan ibunya. Sang ibu berjuang menjadi buruh pemetik teh di perkebunan dengan upah tak menentu. Jika hasil petikan banyak, beliau membawa pulang Rp50.000, namun sering kali hanya Rp15.000, bahkan pulang tanpa membawa uang sama sekali. Penghasilan minim itu harus dipaksakan cukup untuk makan dan bertahan hidup.
Mereka tinggal di rumah sederhana berdinding tripleks tua yang mulai lapuk dan berlantai semen rusak yang selalu berdebu. Saat hujan deras turun, ibu dan anak ini hanya bisa berdoa agar rumah kecil tersebut tetap kokoh melindungi mereka.
Bocah 7 Tahun Menjual Layangan Demi Impian Bersekolah Tak tega melihat ibunya berjuang sendirian, Satria memilih ikut melangkah. Saat musim layangan tiba, ia menjajakan layangan di kampungnya. Jika habis terjual, keuntungan yang didapat hanya Rp10.000 sehari. Ketika musim layangan berakhir, ia beralih menjual jajanan anak-anak. Meski tak jarang pulang dengan kantong kosong, Satria tak pernah mengeluh.
Melihat teman-temannya mengenakan seragam merah putih membawa tas sekolah, Satria menyimpan satu mimpi sederhana di hati kecilnya:
"Aku juga ingin sekolah... Ingin membaca, menulis, berhitung, dan punya buku pelajaran."
Namun bagi keluarga kecil ini, memenuhi kebutuhan makan harian saja sudah merupakan perjuangan berat, sehingga biaya sekolah masih menjadi impian yang terasa sangat jauh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang memelihara anak yatim di antara umat Islam hingga mereka dewasa, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga...” (HR. Tirmidzi)
TemanBaik, Mari Jaga Yatim dan Muliakan Putera Sang Pahlawan Kebaikan Ayah Satria telah mengorbankan nyawanya demi menolong orang lain. Hari ini, mari kita bergandengan tangan untuk melanjutkan kebaikan sang ayah dengan menjadi penopang masa depan Satria. Through program Jaga Yatim, mari dekap Satria agar ia tak kehilangan masa depannya.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
