dulu mereka juga kesayangan orang tua nya
di pelosok kota di sudut sudut desa masih banyak sekali para lansia yang belum tersentuh dan memiliki kehidupan yang layak, bahkan hanya sekedar untuk makan demi menyambung kehidupan, mereka yang usia nya sudah senja dan terus berjuang dan berjuang demi sesuap nasi, belum lagi masalah kehidupan mereka yang lain, oleh sebab itu kami dari yayasan ARAH CAHAYA INDONESIA berinisiatif untuk terjun langsung menyapa rumah demi rumah lansia yang membutuhkan, banyak cerita yang kami peroleh dan kami mengajak kepada semuanya untuk bahu membahu meringankan sebagian beban mereka
mbah pariyem ( 73 th ) misalnya, beliau sudah sangat senja, penglihatannya mulai kabur, dan langkahnya tak lagi kuat seperti dulu. Namun setiap hari, ia tetap memaksakan diri keluar rumah untuk mencari nafkah demi masa depan cucunya
Dengan membawa beberapa dagangan sayuran, mbah pariyem berjalan dari rumah kerumah menawarkan dagangan. si mbah hanya mendapat upah rata rata Rp10.000-20,000 untuk setiap harinya. Jumlah yang sangat kecil, namun itulah satu-satunya cara yang masih bisa ia lakukan
ada cerita yang sangat sedih di balik kehidupan mbah pariyem
anak beliau perempuan merantau di papua bersama suaminya, disaat anakya hamil 8 bulan dalam kondisi sakit dan harus di operasi, anak si mbah meninggal dunia dan hanya bisa menyelamatkan cucunya yang masih didalam kandungan,jahatnya lagi bapaknya memilih meninggalkan ananya entah kemana hingga simbah harus menanggung semua sendirian
berikut mbah rantilah, 5 tahun anaknya hanya bisa terbaring sakit, gak pernah sekalipun berobat,bertahan hidup hanya dengan pijat,
Di usia 75 tahun, mbah rantilah menjalani hidupnya dengan penuh ujian, fisik yang sudah melemah dan penglihatan yang sudah tidak setajam dulu, simbah harus masih berjuang dan merawat anaknya yang sakit berbaring tak berdaya di atas kasur.
mbh sri maryati ,8 tahun suami hanya bisa terbaring sakit, gak pernah sekalipun berobat, makan seadanya bahkan sering kelaparan.
"Saya kadang gak kuat menanggung beban ini sendirian… suami sakit gak punya biaya untuk berobat, kadang kami harus menahan lapar. Pernah berfikir mau menyerah, tapi saya sadar lagi…"
Kondisi suami simbah sudah sangat memprihatinkan. Ia hanya bisa terbaring lemah, sesak nafasnya tambah parah, sering gemetar badannya, dan sangat rapuh.
Dengan suara bergetar dan air mata yang tak bisa ia tahan.
Tidak berhenti sampai di situ,rumah reot yang di gunakan sekarang bukanlah tanah dan rumahnya, mbah mar dan suami tidak punya rumah, mereka hanya menumpang, dan beberapa waktu yang lalu mereka sudah di minta pergi sama pemiliknya,
yuk kita ringan beban sebagian beban beban mereka dan para lansia yang lainnya

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
