Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Kakak Beradik Lansia Jual Kangkung Demi Bisa Makan

Kakak Beradik Lansia Jual Kangkung Demi Bisa Makan

Rp 0Terkumpul dari Rp 77.000.000
40 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Di usia senja, banyak orang berharap bisa menikmati hari-hari dengan tenang. Duduk di teras rumah, ditemani keluarga, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus memikirkan bagaimana cara bertahan hidup.

Namun, harapan itu tak pernah datang untuk Mbah Ami dan Mbah Ama.


  Kakak beradik ini menjalani hari-hari mereka hanya berdua. Tak memiliki anak, cucu, ataupun keluarga yang bisa menjadi tempat bersandar. Yang mereka punya hanyalah satu sama lain.


  Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar meninggi, kedua nenek renta ini sudah bersiap memulai perjuangan. Dengan tubuh yang semakin rapuh, lutut yang nyeri, dan tangan yang gemetar, mereka memetik kangkung lalu mengikatnya satu per satu.

  Kangkung itu mereka jual keliling kampung, harganya hanya Rp1.000 per ikat. Sayangnya, perjuangan panjang itu sering kali tak berbuah hasil.


"Di kampung ini, warga lebih memilih mencari kangkung sendiri di sungai. Jualan kami sering kali tidak dilirik," ucap Mbah Ama lirih.

  Mereka tetap berjalan, meski langkah semakin berat. Berkilo-kilometer mereka tempuh hanya untuk berharap ada satu dua orang yang membeli.

Kalau sedang beruntung, mereka membawa pulang sekitar Rp15.000.


  Namun lebih sering, kangkung yang mereka bawa pulang justru sudah layu karena tak laku terjual.

Saat itu terjadi, rasa lapar menjadi teman yang tak bisa dihindari.


  Nasi sisa kemarin menjadi hidangan yang sangat berharga. Bahkan tak jarang, keduanya hanya meminum air putih agar perut yang perih terasa sedikit lebih tenang.


  Tak ada tabungan. Tak ada penghasilan tetap. Tak ada keluarga yang bisa membantu ketika tenaga mereka benar-benar habis.

Malam pun tak membawa kenyamanan.


  Rumah yang mereka tempati sudah tua dan nyaris roboh. Dindingnya berlubang, atapnya bocor, dan saat hujan turun, air merembes membasahi lantai.


  Di dalam rumah itu, Mbah Ami dan Mbah Ama tidur berdua di atas tikar lusuh yang digelar di dipan bambu reyot. Tubuh yang seharian berjalan jauh harus beristirahat di atas bilah bambu yang keras dan dingin.

  Saat hujan datang, mereka hanya bisa saling merangkul agar tetap hangat, yang paling membuat hati mereka gentar bukanlah lapar ataupun lelah. Melainkan rasa takut kehilangan satu sama lain.


"Mbah cuma takut, kalau nanti salah satu dari kami pergi duluan, siapa yang akan menemani satu lagi?"


Kalimat sederhana itu menyimpan kesedihan yang begitu dalam.

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id