Pilu Mbah Saah Buta, Sebatang Kara, Jual Rumah Demi Penglihatan

Beban yang begitu berat dipikul Mbah Saah (63 tahun) sendirian. Kedua matanya nyaris buta total, tetapi dia harus tetap bekerja..
Begitu pilu kisah hidup Mbah Saah, seorang lansia yang menjalani hari-harinya dalam kesendirian yang menyayat hati. Tidak ada suami maupun anak, hanya sebuah rumah reyot yang hampir ambruk menjadi satu-satunya tempat berlindung.
Namun kini, tempat berteduh satu-satunya pun Mbah Saah jual demi bisa berobat dan menyambung hidup.
Setiap pagi, di saat tubuh rentanya harus banyak beristirahat, Mbah Saah memaksa dirinya bangkit. Kedua kakinya mulai rapuh dan pandangannya semakin memudar..
“Mata kanan mbah direnggut sakit keratitis yang sudah parah,nduk. Sementara mata kiri juga udah memburuk..mbah hampir buta total”, ucap Mbah.
Dengan kondisi penglihatan yang terbatas, mbah tetap menyusuri tepian laut. Harapannya hanya satu, dia bisa menemukan segenggam kupang kecil untuk bisa ditukar atau dijual.
Mbah melangkah dengan sangat pelan sambil menggenggam tongkat kayu sebagai yang membantunya melihat. Dia berjalan kaki puluhan kilometer ke kota, menjajakan hasil lautnya namun pahit yang diterima.
“Mbah pernah ditipu uang palsu, nduk. Kadang harus jualan sampai malam juga biar bisa beli nasi sama lauk..Mbah sering jatuh, nabrak benda-benda dan nyasar di halaman rumah sendiri”
“Nduk..mbah cuma berharap, di sisa umur mbah ini bisa melihat sedikit saja..kalau memang harus jual rumah untuk bisa berobat, mbah rela, asal bisa melihat lagi”, lirih Mbah.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
