Kisah Pilu Mbah Tumiran

Saat banyak orang seusianya menikmati waktu istirahat dan ditemani keluarga, Mbah Tumiran justru masih harus berjuang seorang diri demi menyambung hidup. Setiap pagi, dengan tubuh yang semakin renta dan langkah yang tak lagi kuat, beliau berkeliling menjajakan pisang goreng dari satu tempat ke tempat lain.
Namun hasil yang dibawa pulang sering kali sangat jauh dari cukup. Dalam sehari, Mbah Tumiran terkadang hanya memperoleh sekitar Rp15.000. Uang sebesar itu bahkan belum mampu memenuhi kebutuhan makan yang layak. Tak jarang, beliau memilih menahan lapar karena penghasilannya tak cukup.
"Yang penting hari ini masih bisa bertahan, urusan besok dipikir nanti."
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran kehidupan yang beliau jalani setiap hari. Meski tubuhnya sering terasa lemas dan tenaga semakin menurun, Mbah Tumiran tetap memaksakan diri berjalan menawarkan dagangannya. Sayangnya, dagangan yang dibawa juga kerap tidak habis terjual. Rasa lelah, lapar, dan usia yang semakin menua membuat beliau beberapa kali tertidur di pinggir jalan karena tak sanggup menahan letih.
Hingga saat ini, Mbah Tumiran juga menjalani hari-harinya tanpa pendamping yang selalu ada di sisi beliau. Tidak ada keluarga yang setiap hari menemani atau membantu meringankan beban hidupnya. Bantuan dari sekitar pun datang tak menentu.
Lebih memilukan lagi, tempat yang beliau sebut rumah hanyalah gubuk sederhana yang kondisinya memprihatinkan. Bangunannya nyaris roboh dan jauh dari kata nyaman. Saat hujan turun atau angin dingin datang, air dan udara mudah masuk ke dalam. Meski begitu, tempat itulah satu-satunya tempat Mbah Tumiran pulang setelah seharian berjuang mencari rezeki.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
