Pahala Jariyah Bantu Lansia Pejuang Nafkah

“Barangsiapa yang meringankan beban orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Usia 72 Tahun Sebatang Kara: Berteman Sunyi di Gubug Reyot Baleendah Di sudut kecil wilayah Baleendah, Kabupaten Bandung, seorang lansia bernama Kakek Bahri (72 tahun) harus melewati sisa hidupnya dengan cara yang amat memilukan. Di usia senja yang seharusnya diisi dengan ketenangan, ibadah yang khusyuk, dan kehangatan pelukan anak cucu, beliau justru dipaksa keadaan untuk bertahan hidup seorang diri.
Kakek Bahri tinggal di sebuah gubug reyot yang kondisinya sangat mengenaskan dan nyaris roboh. Di dalam gubug sempit itu, tidak ada suara televisi, tidak ada suara radio, dan tidak ada keluarga yang menemani. Hari-hari beliau berlalu dalam kesunyian yang panjang, dingin, dan mencekam, sembari menahan rasa sakit yang luar biasa yang terus menggerogoti tubuh rentanya.
Berjualan Mainan Sederhana Ditengah Ronggongan Benjolan Sebesar Bola Golf Untuk menyambung hidup agar tidak mati kelaparan, Kakek Bahri menolak untuk mengemis. Dengan tangan yang mulai bergetar dan sisa tenaga yang makin menipis, beliau membuat serta menghias kelumang laut (umpang-umpang) dan rumah-rumahan kecil dari bahan sederhana. Mainan anak itu ia pajang di depan gubugnya dengan harapan ada anak-anak yang mau membeli. Dari hasil jualan yang tak seberapa dan tidak menentu itulah, beliau menyambung napas dengan membeli sesuap nasi seadanya.
Namun, kini kondisi fisik Kakek Bahri kian memprihatinkan. Di sekujur tubuh rentanya tumbuh benjolan-benjolan aneh sebesar bola golf. Yang paling menyiksa, terdapat sebuah benjolan yang sangat besar di bagian perutnya. Benjolan itu menimbulkan rasa nyeri dan sakit yang tak tertahankan setiap hari. Tubuhnya kian hari kian kurus kering, dan kini untuk melangkah pun beliau harus tertatih-tatih dibantu sebilah tongkat kayu tua.
Menahan Sakit Tanpa Biaya: Jangankan ke Rumah Sakit, untuk Makan pun Sulit Kakek Bahri hanya bisa pasrah membiarkan penyakitnya kian parah. Beliau tidak mampu berobat ke rumah sakit karena ketiadaan biaya. Jangankan untuk menebus obat atau membayar ongkos ke fasilitas medis, untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja beliau sering kali kesulitan dan menahan lapar.
Beliau benar-benar hidup sebatang kara di dunia ini. Tidak ada saudara tempat mengadu, tidak ada anak tempat bersandar. Hanya ada seuntai harapan kecil di dalam hatinya yang sunyi, berharap agar Allah mengetuk hati orang-orang baik untuk mengulurkan tangan menolongnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang memelihara janda dan orang miskin, maka mereka seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang berpuasa di siang hari dan salat di malam hari.” (HR. Bukhari)
Hari Ini, Mari Menjadi Kepanjangan Tangan Allah untuk Kakek Bahri Ketika banyak orang bisa menikmati masa tua dengan nyaman bersama keluarga tercinta, Kakek Bahri harus mendekam sendirian di gubug reyot melawan rasa sakit yang menyiksa dada. Hari ini, kita bisa hadir sebagai jawaban atas doa-doa yang beliau panjatkan dalam sunyi.
#TemanBaik, mari kita kumpulkan pahala terbaik kita untuk memuliakan masa tua Kakek Bahri.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
