Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Patungan Bantu Lansia Pejuang Nafkah Tanpa Kenal Lelah

Patungan Bantu Lansia Pejuang Nafkah Tanpa Kenal Lelah

Rp 6.798.265Terkumpul dari Rp 50.000.000
50 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

Ono (85)



Hanya makan sekali sehari demi bisa bayar kontrakan dan pulang menemui istri.


  Di usianya yang sudah 85 tahun, Abah Ono masih harus mengayuh langkah demi langkah untuk mencari nafkah.


  Setiap hari, dari pagi hingga malam pukul 7, beliau berkeliling kota sambil mendorong gerobak bakso ayam sejauh belasan kilometer. Dengan tubuh yang sudah renta, Abah tetap berjalan tanpa mengeluh, meski hasilnya hanya 15ribu rupiah per hari.


  Abah hidup sendiri di kota, meninggalkan istrinya di kampung. Ia mengontrak kamar kecil yang sudah usang dengan harga 350 ribu per bulan. Saat ini, Abah menunggak satu bulan kontrakan. Sudah tiga bulan ia tak pulang, bukan karena tidak rindu, tapi karena tak memiliki cukup uang untuk ongkos pulang dan memberikan sesuatu untuk istrinya.


  Setiap hari, Abah hanya makan sekali. Itu pun hanya nasi dengan tahu, karena uang yang ia miliki harus disisihkan untuk membayar kontrakan dan mengumpulkan ongkos pulang.


  Sudah 15 tahun Abah Ono berjualan bakso ayam. Namun kini, dagangannya sering sepi, apalagi tubuh abah sudah tidak sekuat dulu karena faktor usia.


  Sungguh menyayat hati melihat lansia 85 tahun yang seharusnya sudah menikmati hidupnya dengan tenang, namun justru masih harus berjuang keras di hari tuanya demi sekedar membayar kontrakan.


  #TemanBaik, Abah bermimpi bahwa abah ingin memiliki ternak ikan di kampung tempat tinggalnya, agar abah tidak lagi harus berpisah dengan sang istri, dan dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya.


---------

Aan (61)



  Pernahkah kita membayangkan ada pintu pahala yang terbuka lebar melalui perjuangan seorang ibu berusia 61 tahun? Itulah Mak Aan, yang di masa senjanya justru harus memikul beban sebagai tulang punggung tunggal setelah suaminya wafat. Setiap langkah kaki rentanya menyusuri kampung demi kampung untuk menjual cempal (alas panci) bukan sekadar mencari sesuap nasi, melainkan sebuah undangan bagi kita untuk ikut menanam benih kebaikan. Menolong Mak Aan adalah kesempatan emas bagi kita untuk memuliakan seorang ibu yang tak pernah menyerah menjaga keluarganya di bawah terik matahari setiap hari.


  Beban Mak Aan adalah ladang pahala yang sangat luas bagi siapa pun yang ingin meringankannya. Bayangkan besarnya ganjaran bagi mereka yang membantu seorang ibu merawat dua anak ODGJ selama lebih dari 20 tahun sendirian. Dengan penghasilan yang sering kali hanya Rp5.000, Mak Aan bahkan rela hanya memakan remah-remah gorengan sisa demi memastikan kedua anaknya tidak kelaparan. Di sinilah iman kita diuji. Maukah kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengganti remah-remah itu dengan hidangan yang layak? Membantu Mak Aan artinya kita sedang berinvestasi pada doa-doa mustajab seorang ibu yang sabarnya tiada bertepi.


  Inilah saatnya kita menjadikan harta kita sebagai saksi pembela di akhirat dengan memberikan harapan yang telah lama padam. Sudah dua tahun anak-anak Mak Aan tak tersentuh pengobatan rumah sakit karena ketiadaan biaya, dan mimpi beliau untuk memiliki usaha menjahit sendiri agar bisa bekerja sambil menjaga anaknya adalah jalan bagi kita untuk menciptakan amal jariyah. Mari hadir sebagai #TemanBaik yang tidak hanya sekadar memberi, tapi juga memuliakan sisa usia Mak Aan. Setiap rupiah yang Anda sisihkan adalah langkah nyata untuk menjemput ridho-Nya melalui senyum bahagia keluarga pejuang ini.


#Temanbaik Mari beri harapan

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id