Patungan Untuk Ringankan Beban Pejuang Nafkah Tanpa Kenal Lelah

Rasya (18)
Di saat remaja seusianya sibuk bermain dan mempersiapkan masa depan, Rasya (18) harus memanggul beban yang teramat berat di pundaknya. Sepulang sekolah, tak ada waktu untuk bersantai. Rasya langsung berganti peran menjadi pejuang nafkah, menjajakan gorengan demi menyambung nyawa kedua orang tua dan ketiga adiknya.
Rasya adalah tumpuan harapan. Ayahnya kini hanya bisa terbaring lemah karena sakit lumpuh akibat diabetes dan saraf terjepit. Ibunya berjuang sebagai buruh cuci setrika, namun penghasilannya jauh dari cukup. Alhasil, Rasya bersama adiknya, Raffa (10), harus berjualan sambil mengasuh dua adik kembarnya yang masih kecil.
Keuntungan dari berjualan gorengan seringkali tak sebanding dengan lelahnya. Dalam sehari, Rasya biasanya hanya membawa pulang 20 hingga 30 ribu rupiah. Tak jarang, saat sepi, ia hanya mengantongi 10 ribu rupiah.
Kondisi ekonomi yang mencekik membuat Rasya kini memiliki tunggakan SPP sekolah sebesar 10 juta rupiah. Di rumah, meja makan mereka pun seringkali hanya menyajikan nasi putih tanpa lauk. "Jujur, saya ingin sekali bermain seperti teman-teman lain, tapi saya tidak tega melihat kondisi keluarga," ucap Rasya lirih.
#TemanBaik, Ramadhan adalah waktu di mana pintu langit terbuka lebar bagi mereka yang gemar menolong saudaranya. Membantu Rasya bukan hanya soal memberi donasi, tapi soal menyelamatkan masa depan seorang anak bangsa yang sedang berjihad demi keluarganya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 273 mengenai orang-orang yang berhak menerima bantuan:
"(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta..."
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Barangsiapa yang membantu perlengkapan orang yang berjihad di jalan Allah, maka ia telah ikut berjihad..." (HR. Muslim). Menafkahi keluarga dengan cara yang halal adalah salah satu bentuk jihad yang paling nyata.
#Temanbaik Mari kita ringankan beban di pundak remaja tangguh ini. Jadikan sedekahmu sebagai wasilah datangnya keberkahan dalam hidupmu dan kebahagiaan bagi keluarga Rasya.
—-
Hamdani (24)
“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Keterbatasan Fisik Sejak Bayi dan Kehilangan Ayah Sejak Lahir
Mohamad Hamdani, atau yang akrab dipanggil Aam (24 tahun), adalah seorang pemuda yatim tangguh yang terlahir tanpa pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ayah. Ujian hidup Aam sudah dimulai sejak ia masih bayi. Terlahir dalam kondisi normal, Aam mendadak mengalami panas tinggi dan kejang-kejang hebat saat usianya baru 4 bulan. Ketiadaan biaya membuat sang ibu, Ibu Maesaroh, tidak mampu membawanya berobat ke rumah sakit. Akibatnya, hingga kini Aam harus hidup dengan cara berjalan yang kurang normal dan artikulasi bicara yang kurang jelas.
Tak hanya itu, luka masa lalu juga membekas di hatinya. Aam terpaksa putus sekolah sejak kelas 2 SD karena tidak kuat terus-menerus menjadi korban perundungan (bullying) dan diejek oleh teman-temannya untuk masuk Sekolah Luar Biasa (SLB). Di balik rasa kesal dan kecewanya, Aam sebenarnya sangat ingin bersekolah layaknya anak-anak lain.
Gigih Mencari Nafkah dengan Roda Dagangan yang Sering Terbalik. Meski ruang gerak dan bicaranya terbatas, Aam menolak untuk menyerah pada keadaan atau sekadar mengemis iba. Setiap hari, ia memeras keringat dengan berjualan bakso ikan dan minuman keliling demi membantu ibunya. Dari fajar hingga petang, Aam mendorong roda dagangannya melintasi jalanan. Dari hasil peluh keringatnya itu, ia mengumpulkan keuntungan bersih yang tak menentu, berkisar antara 30 ribu hingga 50 ribu rupiah per hari.
Langkah kakinya yang tidak stabil membuat aktivitas mendorong roda menjadi perjuangan yang amat berat. Beruntung, para tetangga sering kali turun tangan membantu mendorong roda Aam saat melewati jalanan menanjak atau berlubang. Namun, saat para tetangga sedang sibuk dengan urusan masing-masing dan Aam terpaksa mendorong sendirian, musibah kerap terjadi. Aam pernah hilang kendali, terjatuh di jalanan, hingga seluruh dagangan bakso ikannya tumpah tak bersisa ke tanah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang meringankan beban orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Kerinduan Seorang Anak pada Ibunya di Rumah Peninggalan Kakek
Saat ini, Aam dan ibunya tinggal di sebuah rumah sederhana peninggalan almarhum kakeknya. Demi menyambung hidup yang serba kekurangan, Ibu Maesaroh harus bekerja keras sebagai buruh tandur (penanam padi). Pekerjaan ini memaksa sang ibu kerap pergi meninggalkan Aam sebatang kara di rumah selama 2 hingga 3 hari berturut-turut ketika musim panen tiba di daerah lain.
Di tengah kesepian tanpa ibunya, Aam membuktikan baktinya sebagai anak yang saleh. Sepulang berjualan, ia tidak pernah mengeluh. Dengan keterbatasan fisiknya, ia tetap mandiri membersihkan rumah, mencuci baju, dan mencuci piring sendiri.
Di dalam lubuk hatinya, Aam menyimpan dua mimpi mulia. Ia ingin sekali memiliki sepeda motor roda tiga yang dimodifikasi khusus agar ia bisa berjualan lebih jauh tanpa perlu merepotkan orang lain dan tanpa takut terjatuh lagi. Selain itu, ia juga sangat ingin memberikan modal usaha grosir sembako untuk ibunya di rumah. Aam berharap, jika ibunya punya warung sendiri, sang ibu tidak perlu lagi pergi jauh berhari-hari meninggalkan dirinya sendirian.
#TemanBaik, mari kita kumpulkan pahala terbaik kita untuk memuliakan perjuangan Aam
---
Fitria (23)
Ujian Bertubi bagi Seorang Ibu
Fitria (23) adalah sosok tangguh yang sejak lahir sudah ditinggal wafat oleh ayahnya. Kehidupan yang awalnya penuh harapan setelah menikah dengan Kang Indra dan dikaruniai dua putri kecil, tiba-tiba berubah menjadi gelap. Kecelakaan jatuh saat berjualan siomay keliling mengakibatkan Fitria mengalami syaraf terjepit dan stroke.
Kini, Fitria kehilangan kemampuan bicara (tuna wicara) dan kedua kakinya lumpuh. Untuk berpindah tempat di dalam rumah, ia harus merangkak dan merayap di dinding. Di tengah kondisi kritis ini, sang suami justru pergi meninggalkan Fitria dan anak-anaknya tanpa kabar karena malu memiliki istri yang lumpuh.
Perjuangan Melawan Lapar dan Keterbatasan
Dalam sunyi dan langkah yang terseret, Fitria tidak menyerah. Setiap hari ia tertatih berjualan air mineral di pinggir jalan dengan penghasilan hanya Rp20.000 - Rp30.000. Namun, seringkali dagangannya sepi pembeli.
Puncak kepedihan terjadi saat Fitria kehabisan biaya untuk membeli susu. Setelah kulkas peninggalan ayahnya terjual habis, Fitria terpaksa memberikan air putih di dalam botol dot untuk kedua anaknya karena tak mampu lagi membeli susu.
Mari Menjadi Jembatan Kebaikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang membantu janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah." (HR. Bukhari & Muslim)
Wujudkan Mimpi Fitria untuk Sembuh
Fitria hanya ingin satu hal: Sembuh. Ia ingin bisa kembali berdiri, berjualan siomay, dan menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses. Ia tidak ingin anak-anaknya merasakan kepahitan yang sama seperti dirinya yang tumbuh tanpa pelindung.
—
Edi (61)
Berjuang menafkahi keluarganya dengan berjualan sayur, Abah Edi (61) tetap gigih meskipun kini beliau hanya memiliki satu kaki saja. Karena kondisi fisiknya juga Abah Edi tidak bisa lagi bekerja secara maksimal.
Kaki kanannya harus diamputasi karena pada 6 tahun yang lalu pada saat Abah Edi bekerja menjadi kuli air, kakinya terkena infeksi dari bakteri air. Walau kakinya sudah diamputasi, namun infeksi tersebut sudah menjalar ke bagian tubuh Abah yang lainnya. Saat ini pada telapak kaki kirinya terdapat suatu luka bolong yang tak kunjung sembuh, bukan hanya pada telapak kaki saja, luka bolong tersebut ada di bagian pinggul bawah Abah.
“Ini kaki Abah bolong, di pinggul juga ada dua bolong. Cuman bisa Abah tutup pake pampers bayi nak soalnya ga bisa kebeli obat sama perbannya.”
Sesuai yang diungkapkan oleh Abah Edi, beliau tidak mempunyai biaya untuk membeli obat dan peralatan medis lainnya. Pasalnya, dalam sehari Abah Edi hanya bisa mendapatkan keuntungan sebesar 10-15 ribu rupiah saja. Pendapatan sebesar itu tentunya tidak cukup bagi Abah untuk bisa membeli obat dan menafkahi keluarganya saat ini. Apalagi beliau saat ini masih memiliki seorang anak yang masih menginjak di bangku sekolah kelas 6 SD.
Selain sayur, Abah Edi juga menjual bumbu dapur instan dan bumbu dapur lainnya seperti bawang, cabai, dan lain-lain. Meskipun sudah bervariasi, masih saja jarang ada pelanggan yang membeli dagangan Abah.
Dengan kondisi yang terpuruk ini pula, 6 tahun lalu saat kaki Abah diamputasi anak pertama Abah Edi meninggalkan Abah dan adiknya entah pergi kemana. Abah Edi mengutarakan bahwa mungkin saja anak pertamanya pergi tanpa kabar karena tidak mau mengurus ayahnya sendiri.
Saking minimnya pendapatan dari hasil berjualan, Abah Edi dan keluarganya hanya bisa makan dengan nasi saja, terkadang juga dengan sayur yang tidak laku terjual. Tempat tinggalnya pun masih berlantaikan tanah dan terlihat tak terurus. Atap yang bocor dan beberapa bagian rumahnya yang tak terawat menunjukan kesulitan Abah Edi yang dialami.
“Bingung nak, apalagi anak Abah udah mau masuk SMP tapi kondisi Abah kaya gini, takut ga bisa sekolahin anak.”
#TemanBaik, dengan segala cobaan berat yang Abah Alami, Abah Edi tetap tegar dan tabah menghadapi semuanya. Jika ada modal, Abah sangat ingin memiliki usaha yang lain agar beliau bisa mendapatkan pendapatan yang layak sehingga bisa menafkahi keluarganya dengan

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
