Sering di Hina Bantu Pejuang Nafkah Disabilitas

Di tengah kehidupan yang semakin sulit, mencari nafkah bukanlah hal yang mudah. Terlebih bagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas dari keluarga dhuafa. Dengan kondisi fisik yang terbatas, mereka harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di balik keterbatasan fisik mereka, ada semangat yang tidak pernah padam. Ada harapan yang terus dijaga, dan ada kebutuhan hidup yang tetap harus dipenuhi setiap harinya.
Bagi sebagian orang, bekerja dan mencari nafkah mungkin menjadi hal biasa. Namun, bagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas, setiap usaha untuk mendapatkan uang bisa menjadi perjuangan yang sangat berat.
Ada yang berjualan keliling tanpa kedua kaki dan hanya menggunakan kedua tangannya untuk bergerak, sambil menawarkan dagangan kepada orang-orang yang ditemui. Ada pula yang tetap bekerja meski tidak memiliki kedua tangan. Panasnya cuaca, rasa lelah, hingga penghasilan yang tidak menentu menjadi bagian dari keseharian mereka.
Meski menghadapi banyak kesulitan, mereka tidak ingin menyerah pada keadaan. Mereka terus berusaha agar bisa memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga, tanpa harus selalu bergantung pada bantuan orang lain.
Salah satunya adalah Abah Iji. Saat dagangannya sedang sepi, Abah Iji masih harus menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain yang menghina kondisi fisiknya. Padahal, Abah hanya ingin berusaha mencari nafkah dengan berjualan keset keliling kampung.
"Salah Abah apa? Abah gak pernah buat susah orang. Abah gak pernah ngehina orang, tapi ada aja orang yang menghina Abah." Ujar Abah Iji sambil menangis.
Di tengah kondisi tubuhnya yang lemah, Abah Iji tetap memaksakan diri untuk berjualan keset. Namun, ia tidak bisa berjualan setiap hari karena harus membuat kesetnya terlebih dahulu.
Setelah berhasil mengumpulkan 5 keset, barulah Abah Iji mulai berkeliling untuk menjualnya. Sayangnya, keuntungan yang didapat sangat sedikit. Untuk setiap keset yang terjual, Abah Iji hanya memperoleh keuntungan sebesar Rp6.000.
Meski begitu, Abah Iji tetap berusaha. Baginya, selama masih mampu bekerja, ia akan terus berjuang untuk mendapatkan penghasilan.
Ada juga Mak Nonok, lansia difabel yang tetap berjualan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Di usianya yang sudah 59 tahun, Mak Nonok harus menjalani kehidupan dengan keterbatasan fisik sejak lahir. Ia merupakan seorang lansia penyandang disabilitas.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat untuk berusaha dan menjalani hidup dengan mandiri.
Setiap pagi, Mak Nonok bangun lebih awal untuk menyiapkan kue kering yang akan dijualnya. Dengan kondisi fisik yang terbatas, ia tetap berusaha berjualan dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak sekitar 3 kilometer.
Penghasilan Mak Nonok pun tidak menentu. Terkadang ia hanya mendapatkan Rp50.000, tetapi jika dagangannya laku, penghasilannya bisa mencapai Rp80.000. Itu pun masih berupa penghasilan kotor yang belum dikurangi biaya modal untuk membuat kue kering.
Tidak jarang, Mak Nonok harus pulang dengan membawa penghasilan yang sangat sedikit. Namun, ia tetap berusaha berjualan karena kebutuhan hidup harus terus dipenuhi.
Perjuangan serupa juga dijalani oleh Bu Elis. Setiap pagi, Bu Elis yang berusia 47 tahun harus menyiapkan bahan-bahan sederhana untuk membuat kue basah. Dengan hanya mengandalkan tangan kirinya, ia mengukus, membungkus, dan menata kue buatannya dengan penuh kesabaran.
Sejak lahir, Bu Elis hidup dengan kondisi disabilitas. Ia hanya memiliki tangan kiri, sementara kedua kakinya juga mengalami keterbatasan. Bahkan, kini sebagian kakinya sudah tidak ada. Rasa nyeri pun masih sering datang dan membuatnya kesulitan untuk bergerak.
Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangat Bu Elis untuk bertahan hidup. Ia tetap berusaha membuat dan menjual kue basah keliling demi mendapatkan penghasilan. Sayangnya, kondisi fisiknya dan cuaca yang sering hujan membuat Bu Elis tidak bisa berjualan setiap hari. Dalam satu bulan, ia hanya mampu berjualan sekitar 4–5 kali.
Dari hasil jualannya, Bu Elis hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan. Sementara itu, biaya kontrakan yang harus dibayarnya mencapai Rp400.000 setiap bulan.
Artinya, penghasilan dari jualannya bahkan belum cukup untuk membayar biaya tempat tinggalnya. Meski serba kekurangan, Bu Elis tetap berusaha menyisihkan sedikit uang untuk membayar kontrakan agar dirinya masih memiliki tempat untuk berteduh.
Sahabat Kebaikan, kisah Abah Iji, Mak Nonok, dan Bu Elis menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak membuat mereka berhenti berjuang. Mereka terus berusaha mencari nafkah meski harus menghadapi berbagai kesulitan, penghasilan yang tidak menentu, bahkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain.
Namun, perjuangan mereka tidak seharusnya dilakukan sendirian. Kepedulian kita bisa menjadi salah satu jalan untuk meringankan beban hidup mereka.
Melalui program Sedekah Pejuang Nafkah Disabilitas, Yayasan Global Sedekah Movement mengajak Sahabat Kebaikan untuk ikut membantu saudara-saudara kita penyandang disabilitas dari keluarga dhuafa yang sedang berjuang mencari nafkah.
Kita tidak harus menunggu memiliki segalanya untuk bisa membantu sesama. Berapa pun sedekah yang kita berikan, insyaAllah dapat membawa manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Mari, Sahabat Kebaikan, ikut hadir dalam perjuangan Abah Iji, Mak Nonok, Bu Elis, dan saudara-saudara kita lainnya yang sedang berjuang di tengah keterbatasan.
Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu para pejuang nafkah disabilitas seperti tambahan modal usaha, pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan jika terdapat kelebihan dana akan digunakan untuk membantu para penerima manfaat lain nya yang berada dibawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
