Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bertaruh Lelah Demi Kesembuhan Sang Buah Hati

Bertaruh Lelah Demi Kesembuhan Sang Buah Hati

Rp 0Terkumpul dari Rp 50.000.000
43 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “Seperti lilin kecil yang terus terbakar di tengah badai, seorang ibu akan tetap bertahan… bahkan ketika dirinya perlahan habis demi menjaga cahaya hidup anaknya tetap menyala.”


  Di sebuah rumah sederhana yang nyaris tak terdengar suara tawa, Neng Meida (24 tahun) menjalani hidup yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di usia yang masih begitu muda, ia harus memikul beban yang bahkan terlalu berat bagi banyak orang dewasa: menjadi ibu, menjadi ayah, sekaligus menjadi satu-satunya harapan bagi putri kecilnya, Riri (3 tahun).


  Tak ada pelukan yang menguatkan. Tak ada pasangan yang menemani perjuangan panjang ini. Sejak Riri masih berada dalam kandungan, sang suami pergi meninggalkan mereka tanpa kabar dan tanpa tanggung jawab. Sejak saat itu, dunia Neng Meida seakan runtuh perlahan. Yang tersisa hanyalah dirinya… dan seorang anak kecil yang setiap harinya berjuang melawan rasa sakit.


  Riri bukan balita yang bisa berlari mengejar teman-temannya. Ia juga belum mampu berdiri, belum mampu duduk tegak, bahkan tubuh mungilnya kini hanya terbaring lemah di atas kasur tipis yang mulai usang. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan permainan, Riri justru harus bertahan melawan komplikasi penyakit yang terus menggerogoti tubuh kecilnya.


  Tubuhnya semakin kurus hingga tinggal tulang berbalut kulit. Tangisnya lirih, tetapi cukup untuk merobek hati seorang ibu.

  “Hati ibu mana yang kuat lihat anaknya seperti ini…” ucap Neng Meida sambil menahan air mata yang jatuh satu per satu. Namun hidup tidak memberi banyak waktu untuk bersedih.


  Setiap hari, Neng Meida harus tetap keluar rumah demi mencari nafkah. Ia menjajakan kerupuk, dodol, dan keripik titipan tetangga dari kampung ke kampung. Di bawah panas matahari, di tengah hujan, di keramaian jalanan—ia berjalan sambil menggendong Riri yang lemah di pelukannya.


  Bukan karena tega membawa anak sakit berjualan. Tapi karena ia tak punya pilihan lain.

  “Kalau ditinggal di rumah, saya takut kenapa-kenapa. Kasian sebenarnya dibawa jualan terus… tapi saya juga ingin Riri bisa cepat berobat,” lirihnya.


  Penghasilannya tak pernah pasti. Kadang hanya Rp25.000 sehari. Bahkan saat dagangan sepi, Rp15.000 pun sulit didapat. Uang sekecil itu harus cukup untuk makan, kebutuhan sehari-hari, dan biaya pengobatan yang terus tertunda karena tak pernah benar-benar terkumpul. Sudah hampir enam bulan Riri belum mendapat penanganan yang layak.


  Sementara anak-anak lain seusianya bebas tertawa dan berlari mengejar layang-layang, Riri hanya bisa menangis menahan sakit di pelukan ibunya. Dan di setiap malam panjang yang sunyi, Neng Meida hanya memeluk anaknya erat sambil menahan rasa takut kehilangan.


  “Saya tidak ingin apa-apa… cuma ingin Riri sehat. Pengen lihat dia tumbuh normal seperti anak-anak lain,” ucapnya dengan suara bergetar.

  Hari ini, mungkin bagi kita hanya sekadar membaca sebuah cerita. Tapi bagi Neng Meida dan Riri, ini adalah tentang bertahan hidup.


  Karena bagi seorang ibu yang sudah terlalu lelah menangis, bantuan kecil dari orang-orang baik bisa terasa seperti keajaiban besar.


  Teman Beramal : Mari jadi bagian dari harapan Riri. Uluran tangan kita hari ini dapat membantu pengobatan, kebutuhan hidup, dan perjuangan seorang ibu muda yang bertahan sendirian demi anaknya. Tak perlu menunggu mampu untuk membantu, sebab kebaikan sekecil apa pun bisa menjadi alasan Riri terus bertahan.


  Satu donasi, satu doa, dan satu kali berbagi… bisa menjadi kesempatan hidup bagi Riri.


Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id