Bantu Porter Lansia Bertahan

Dibalik jasanya yang sering diabaikan, ternyata porter stasiun tak dapat gaji tetap. Hidup mereka bergantung pada penumpang yang menggunakan jasanya. Namun, tak semua porter bisa mendapatkan orderan. Dari 10-15 porter di Stasiun Banyuwangi, mungkin hanya 4 orang yang dapat orderan angkut.
Kakek Aserin (75 tahun) adalah seorang porter lansia yang sudah 40 tahun menggantungkan hidupnya di Stasiun Banyuwangi Kota. Pahit manis kehidupan porter sudah kakek rasakan, tapi siapa sangka semakin kesini jarang sekali penumpang yang menggunakan jasanya.
"Tiap tahun, pasti ada aja porter baru di stasiun ini. Jumlahnya makin banyak, tapi minat penumpang untuk pakai jasa kami makin sedikit.
Tiap kereta datang, kita udah siap-siap lari ke gerbong-gerbong. Tapi, dari 15 porter, paling cuma 3-4 orang yang dapat orderan. Sejak dulu sudah seperti ini, makanya gak semua porter bisa bawa pulang uang untuk keluarganya.." ucap Kakek Aserin.
Kakek cerita, kadang penumpang lebih memilih porter yang masih muda untuk membawakan barangnya. Mungkin mereka tak tega melihat kakek, tapi bagaimanapun kakek masih harus mencari nafkah untuk keluarganya.
Dalam sehari pendapatan kakek tak menentu, kalau lagi rame biasanya beliau dapat 50 ribu. Tetapi jika kondisi sepi seperti ini kakek sering gak dapat penumpang. Kalau pun ada, kakek rela dibayar seikhlasnya. Dikasih 10 ribu juga mau, yang penting tidak pulang dengan tangan kosong.
“Paling sedih kalo gak bisa beli beras untuk keluarga. Mungkin bagi orang lain harganya murah ya, cuma 8-10 ribu bisa dapat seliter. Tapi, bagi kakek itu nominal yang besar, kadang sehari aja gak dapat sepeser pun. Gimana mau beli beras.." - Kakek Aserin
Sahabat, kisah kakek Aserin hanya 1 dari ribuan kisah pilu porter stasiun yang sering kita dengarkan selama ini. Jika kamu baca tulisan ini, maukah berbagi sedikit rezeki untuk mereka

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
