Ngesot Demi Anak Bu Aisah Terpuruk Setelah Kecelakaan

"Yaa kalau sekarang lebih susah, Cep... soalnya ibu udah nggak bisa keliling lagi. Jadi kalau ada pesanan aja ngejahitnya." Ucap lirih Bu Aisah sambil terus mengayuh mesin jahit tuanya.
Kalimat sederhana itu terdengar begitu biasa. Namun siapa sangka, di balik senyum perempuan bernama Bu Aisah (51 tahun), tersimpan perjuangan yang mungkin tak sanggup dijalani banyak orang.
Sejak lahir, Bu Aisah merupakan seorang penyandang disabilitas. Kedua kakinya tidak dapat digunakan untuk berjalan seperti kebanyakan orang. Untuk berpindah tempat, beliau harus mengandalkan kedua tangannya dengan cara ngesot, bahkan ketika harus keluar rumah mencari nafkah.
Meski hidup dengan keterbatasan, Bu Aisah tak pernah menjadikan kondisinya sebagai alasan untuk menyerah. Selama 15 tahun terakhir, beliau bekerja sebagai penjahit demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dengan sebuah mesin jahit tua, Bu Aisah menerima pesanan pakaian dari warga sekitar. Tak hanya itu, beliau juga sering berkeliling menawarkan hasil jahitannya dari rumah ke rumah demi mendapatkan tambahan penghasilan.
Perjuangan itu semakin berat sejak tiga tahun lalu, ketika rumah tangganya harus berakhir. Sang suami memilih berpisah, meninggalkan Bu Aisah yang kini harus berjuang seorang diri membesarkan empat orang anaknya yang masih bersekolah.
Tak ada waktu untuk mengeluh. Setiap hari Bu Aisah tetap berusaha bekerja meski harus menahan lelah. Penghasilannya memang tak seberapa, sekitar Rp300 ribu dalam sebulan, dan itu pun bukan keuntungan bersih karena sebagian besar harus diputar kembali untuk membeli kain, benang, dan perlengkapan menjahit lainnya.
Namun cobaan kembali menghampiri.
Saat hendak mengunjungi putrinya yang sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL), Bu Aisah mengalami kecelakaan dan terjatuh dari motor. Sejak saat itu, kondisi tubuhnya semakin membatasi aktivitasnya. Beliau tak lagi mampu berkeliling menawarkan jasa jahit seperti dulu.
"Yaa kalau sekarang lebih susah, Cep... soalnya ibu udah nggak keliling lagi. Jadi kalau ada pesanan aja ngejahitnya."
Kini Bu Aisah hanya bisa duduk di rumah, berharap ada orang yang datang membawa pakaian untuk dijahit. Jika tidak ada pesanan, maka tak ada pula penghasilan yang bisa dibawa pulang. Penghasilannya kini hanya sekitar Rp100 ribu per bulan, bahkan terkadang kurang dari itu.
Namun kesulitan ekonomi bukan satu-satunya luka yang harus Bu Aisah rasakan.
Selama bertahun-tahun hidup sebagai penyandang disabilitas, beliau juga harus menghadapi ucapan-ucapan yang begitu menyakitkan. Saat berada di jalan, masih ada orang yang memandang rendah kondisi fisiknya. Bahkan beberapa kali, ketika berpapasan dengan ibu hamil, ada yang sampai meludah sambil berkata,
"Amit-amit Ya Allah..."
seolah kondisi Bu Aisah adalah sesuatu yang harus dijauhi.
Ucapan itu tentu sangat melukai hati siapa pun. Namun Bu Aisah hanya mampu menundukkan kepala.
"Kadang sedih... cuma mau gimana lagi ya. Nggak apa-apa, mungkin memang sudah jalannya." ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Di tengah segala keterbatasan itu, Bu Aisah dan keempat anaknya juga harus tinggal di sebuah rumah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Atap rumah mulai lapuk dan nyaris roboh, sementara beberapa bagian rumah telah berlubang sehingga tidak lagi memberikan rasa aman bagi penghuninya. Saat hujan turun, air kerap masuk ke dalam rumah, membuat mereka harus berpindah ke sudut yang masih kering.
Meski hidup dalam keadaan serba kekurangan, Bu Aisah tidak pernah meminta belas kasihan. Beliau hanya ingin tetap bisa bekerja, menyekolahkan anak-anaknya hingga memiliki masa depan yang lebih baik, serta memiliki rumah yang layak untuk ditinggali bersama keluarganya.
Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari harapan itu.
Sahabat Kebaikan Mari ulurkan tangan untuk membantu Bu Aisah. InsyaAllah, bantuan dari #OrangBaik akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membeli bahan jahitan agar Bu Aisah tetap dapat bekerja, membantu biaya pendidikan keempat anaknya, memperbaiki rumah yang sudah tidak layak huni, serta membantu kebutuhan dan pemulihan pasca kecelakaan.
Setiap rupiah yang #SahabatKebaikan titipkan bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan Bu Aisah hari ini, tetapi juga menjadi harapan baru bagi seorang ibu penyandang disabilitas yang tak pernah menyerah demi masa depan anak-anaknya. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan #SahabatKebaikan dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan Bu Aisah. Selain itu, akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya dibawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
