Kanker Darah Merenggut Masa Kecil Hamdan

💔 “Ayah, kalau aku sembuh, aku pengen bantu Ayah jualan surabi.” — Hamdan, 15 tahun
Di balik tubuh kecil dan wajah pucatnya, Hamdan menyimpan semangat hidup yang luar biasa besar. Ia baru berusia 15 tahun dan kini duduk di bangku kelas 3 SMP.
Namun, siapa pun yang pertama kali melihatnya pasti tidak akan menyangka bahwa Hamdan sudah remaja — tubuhnya mungil, berat badannya tak sampai 30 kilogram, dan wajahnya tampak lebih muda dari usianya.
Sudah dua tahun ini Hamdan berjuang melawan Thalasemia, penyakit kelainan darah serius yang membuat tubuhnya tidak mampu memproduksi hemoglobin secara normal. Akibatnya, darahnya harus diganti secara rutin melalui transfusi darah setiap minggu agar ia tetap bisa hidup. Tanpa transfusi itu, tubuhnya akan melemah, kulitnya membiru, dan napasnya menjadi sesak.
🌧️ Setiap Hari Adalah Perjuangan Tanpa Henti
Setiap pagi, Ede (42 tahun), sang ayah, mempersiapkan Hamdan untuk berangkat ke sekolah. Sekolah Hamdan terletak cukup jauh — hampir satu jam perjalanan dari rumah. Di usia remajanya, Hamdan seharusnya bisa naik sepeda atau berjalan sendiri bersama teman-temannya, namun kenyataannya sangat berbeda.
Kondisi tubuhnya yang sering lemas membuat Hamdan sulit berjalan jauh. Karena itu, Ede hampir setiap hari menggendong anaknya di perjalanan menuju sekolah. Dengan napas terengah dan langkah berat, Ede tetap melangkah — melewati jalan berbatu, menuruni gang sempit, dan menyebrangi jalan ramai sambil menahan rasa lelah yang luar biasa.
Di tengah perjalanan, Hamdan sering berkata pelan,
“Ayah capek ya? Nanti kalau aku sembuh, aku mau bantu jualan surabi biar Ayah gak sendirian.”
Ede hanya bisa tersenyum dan membelai kepala anaknya, menahan haru dalam dada.
“Ayah gak capek, Nak. Ayah senang bisa anterin kamu sekolah.”
Begitulah setiap hari mereka jalani. Tidak ada kendaraan, tidak ada kemewahan, hanya kasih sayang dan keteguhan yang menjadi bahan bakar semangat keduanya.
🍃 Hidup dalam Keterbatasan
Ede hanyalah seorang penjual surabi keliling. Ia menjajakan dagangan dari pagi hingga sore hari, namun surabi yang ia jual bukan miliknya sendiri. Ia hanya bekerja menjual milik orang lain dan mendapatkan upah dari hasil penjualan.
Setiap harinya, Ede hanya membawa pulang sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000. Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu kantong darah bagi anaknya. Karena itu, tak jarang ia harus meminjam uang dari tetangga atau menunda transfusi darah Hamdan ketika uangnya tidak mencukupi untuk ongkos ke rumah sakit.
Mereka kini tinggal di sebuah rumah permanen sederhana milik kerabat. Meskipun rumah itu berdinding bata dan beratap genteng, hampir semua isinya adalah barang pemberian orang. Di dalam rumah kecil itu hanya ada satu tempat tidur yang mereka gunakan bergantian. Kadang Hamdan tidur di pangkuan ayahnya, sementara Ede tetap terjaga, memastikan anaknya bisa bernapas dengan tenang sepanjang malam.
💔 Saat Transfusi Tertunda, Nyawa yang Dipertaruhkan
Setiap kali jadwal transfusi

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
