Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Terancam Putus Sekolah, Novi Berjuang Demi Adiknya

Terancam Putus Sekolah, Novi Berjuang Demi Adiknya

Rp 10.036.000Terkumpul dari Rp 75.000.000
313 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Hujan sore itu turun tanpa ampun. Air mengalir deras di pinggir jalan raya, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang melintas cepat. Di bawah gapura gerbang masuk sebuah pabrik di sisi jalan besar, dua anak kecil berdiri berdempetan, berteduh dari hujan yang mengguyur tanpa jeda. Angin menusuk tulang, pakaian mereka basah, namun mereka tetap bertahan. Yang satu memegang payung lusuh dengan tangan kecilnya, yang satu lagi memeluk sebuah box plastik berisi makanan ringan. Mereka adalah Novi (15) dan adiknya, Aqila (10).


  Novi berdiri sedikit lebih maju, memiringkan payung agar adiknya tidak kehujanan. Sesekali ia bercanda, tertawa kecil, berusaha mengalihkan perhatian Aqila dari rasa dingin dan perih di kulitnya. Di tengah derasnya hujan dan kerasnya hidup, tawa itu terdengar seperti doa yang tak terucap—doa agar hari esok lebih baik dari hari ini.


  Novi saat ini duduk di bangku SMP kelas 2. Namun sepulang sekolah, ia tidak menikmati waktu bermain atau beristirahat seperti teman-temannya. Ia mengganti seragamnya dengan pakaian sederhana, lalu berkeliling menjajakan makanan ringan seharga seribu rupiah. Berbekal sebuah box plastik, Novi menyusuri gang demi gang, berharap dagangannya habis terjual. Hasilnya tak seberapa, namun setiap rupiah ia kumpulkan dengan penuh harapan.


  Ayah mereka bekerja sebagai buruh pengambil rumput di sebuah peternakan, pekerjaan berat dengan upah yang tidak menentu. Ibu mereka baru bekerja sebagai buruh pabrik, itupun belum lama dan penghasilannya masih sangat terbatas. Kondisi ekonomi keluarga ini berada di titik paling sulit. Hingga kini, Novi terancam harus berhenti sekolah, karena biaya pendidikan dan kebutuhan harian semakin tak sanggup dipenuhi.


  Namun di balik ancaman itu, Novi menyimpan sebuah cita-cita besar. Setelah melihat kondisi adiknya yang sakit dan sulit mendapatkan pengobatan, Novi bermimpi menjadi seorang dokter. Ia ingin bisa menyembuhkan Aqila, ingin memahami apa yang terjadi pada tubuh adiknya, dan ingin memastikan tak ada lagi rasa sakit yang harus ditahan karena keterbatasan biaya. Cita-cita itu sederhana, namun lahir dari rasa cinta yang begitu dalam.


  Aqila, adik yang sangat ia jaga, saat ini duduk di kelas 3 SD. Ia menderita alergi berat terhadap sinar matahari yang menyebabkan kerusakan pada hampir seluruh kulit tubuhnya. Wajah Aqila dipenuhi bintik hitam seperti terbakar, hidungnya sering berdarah, dan rasa perih terus menghantuinya. Aqila terakhir kali berobat setahun yang lalu, bukan karena sembuh, melainkan karena keluarga ini tak lagi mampu membayar biaya pengobatan.


  Tak hanya menanggung sakit fisik, Aqila juga harus menghadapi luka batin. Kondisinya sering menjadi bahan ejekan. Tatapan heran, bisikan, dan kata-kata yang menyakitkan membuatnya kerap merasa rendah diri. Ada hari-hari ketika Aqila pulang dengan mata berkaca-kaca, bertanya pada kakaknya, mengapa dirinya berbeda. Dan setiap kali itu terjadi, Novi hanya bisa memeluknya, menahan air mata sendiri.


  Sering kali mereka berjualan bersama. Aqila ikut menemani, meski harus menahan rasa sakit dan tidak nyaman, demi membantu keluarga. Seperti sore itu, ketika hujan deras memaksa mereka berteduh di bawah gapura pabrik. Novi tetap menggenggam payung, menjaga adiknya, seolah berkata pada dunia bahwa selama ia masih berdiri, Aqila tidak sendirian.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, kesehatan Aqila berisiko semakin

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id