Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Ayah Pergi Ibu Tiada Bantu Pahri Kecil Hidupi Adiknya

Ayah Pergi Ibu Tiada Bantu Pahri Kecil Hidupi Adiknya

Rp 0Terkumpul dari Rp 100.000.000
91 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

Bocah 12 Tahun Jual Pisang Keliling Demi Adiknya Tetap Sekolah

  Di usia 12 tahun, seharusnya Fahri masih sibuk belajar, bermain, dan menikmati masa kecilnya bersama teman-teman.

Tapi hidup memaksa Fahri tumbuh lebih cepat.

  Sejak kecil, Fahri dan adiknya, Anjani yang baru berusia 8 tahun, harus menerima kenyataan pahit. Ayah mereka pergi meninggalkan keluarga entah ke mana. Tanpa kabar, tanpa menjenguk, bahkan tanpa pernah menafkahi.

Satu-satunya tempat mereka pulang dan bersandar adalah sang ibu.

Namun kini, ibu yang selama ini menjaga mereka pun telah meninggal dunia.

Sejak saat itu, dunia Fahri benar-benar berubah.

  Tidak ada lagi pelukan ibu saat ia lelah. Tidak ada lagi suara lembut yang menenangkan saat ia sedih. Tidak ada lagi tempat bercerita ketika hidup terasa berat.

Yang tersisa hanya Fahri dan Anjani.

Dua anak kecil yang harus belajar bertahan hidup di tengah keterbatasan.

  Kini mereka menumpang tinggal di rumah pamannya. Hidup sangat sederhana, serba kekurangan, dan jauh dari kata layak.

  Meski masih duduk di bangku kelas 5 SD, Fahri merasa punya tanggung jawab besar. Ia tahu, adiknya masih kecil. Ia tahu, Anjani masih butuh makan, sekolah, dan perhatian.

  Karena itu, setiap pulang sekolah, Fahri tidak langsung bermain seperti anak-anak lainnya.

Ia memikul dagangan pisang, lalu berjalan keliling kampung.

Di sampingnya, Anjani kecil sering ikut menemani.

Di bawah terik matahari, Fahri mengetuk rumah demi rumah.

“Pisangnya, Bu…”

  Kalimat sederhana itu ia ulang berkali-kali. Kadang sampai suaranya serak. Kadang tubuhnya lelah. Tapi Fahri tetap berjalan.

  Sebab ia tahu, kalau ia berhenti, adiknya mungkin tidak punya uang jajan. Mungkin tidak bisa membeli kebutuhan sekolah. Mungkin harus menahan lapar lebih lama.

Namun hasil yang dibawa pulang sering kali tidak seberapa.

  Kadang Fahri hanya mendapatkan sekitar Rp20.000 sehari. Itu pun masih harus dibagi dengan pamannya, karena pisang yang ia jual bukan miliknya sendiri.

Meski begitu, Fahri tidak pernah banyak mengeluh.

Ia tetap bersyukur.

  Uang kecil itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Bukan untuk membeli mainan. Bukan untuk membeli baju baru. Bukan juga untuk memenuhi keinginannya sendiri.

Fahri hanya ingin Anjani bisa tetap sekolah.

  Ia ingin adiknya tetap punya uang jajan seperti teman-temannya. Ia ingin Anjani tidak merasa sendirian. Ia ingin adiknya tetap punya harapan, meski mereka sudah kehilangan banyak hal dalam hidup.

Yang membuat hati semakin teriris, Fahri sering menahan keinginannya sendiri.

Ia tidak pernah meminta sepatu bagus.

Tidak pernah meminta tas baru.

Tidak pernah meminta kehidupan mewah.

  Bagi Fahri, melihat Anjani bisa makan, bisa tersenyum, dan bisa berangkat sekolah saja sudah cukup membuatnya kuat.

  Padahal, di balik senyum kecilnya, Fahri menyimpan beban yang terlalu berat untuk anak seusianya.

  Di usia 12 tahun, Fahri sudah memikul tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh orang dewasa.

#TemanBaik, Fahri tidak sedang meminta belas kasihan.

  Ia hanya butuh uluran tangan agar perjuangan berat ini tidak ia pikul sendirian.

Mari bantu Fahri dan Anjani mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

  Bantuan dari #OrangBaik akan digunakan untuk kebutuhan makan, perlengkapan sekolah, pakaian, kebutuhan harian, dan dukungan agar Fahri serta Anjani bisa terus melanjutkan pendidikan.

Klik Donasi Sekarang.

  Karena tidak seharusnya seorang anak 12 tahun harus menjadi tulang punggung keluarga seorang diri.

Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id