Kakek Disabilitas Berjuang Demi Bertahan Hidup

Setiap pagi, Kakek Domo sudah mulai mendorong gerobak roti kukus menyusuri jalanan Kota Bandung. Langkahnya pelan dan tertatih. Di satu tangan, beliau menggenggam tongkat sederhana yang dibuat dari gagang sapu bekas. Sementara tangan lainnya mendorong gerobak yang bukan hanya menjadi tempat membawa dagangan, tetapi juga menjadi penopang agar beliau tetap bisa berjalan. Di usia 64 tahun, beginilah cara Kakek Domo berjuang mencari nafkah seorang diri.
Sudah bertahun-tahun Kakek Domo hidup sebatang kara. Kampung halamannya berada di Sumedang, namun kini beliau sudah tidak lagi memiliki keluarga maupun kerabat yang dapat menjadi tempat pulang. Bandung menjadi kota tempat beliau bertahan hidup. Beruntung, pemilik pabrik roti tempat beliau mengambil dagangan merasa iba dan mengizinkan Kakek Domo tinggal di salah satu sudut bangunan pabrik. Tempat sederhana itulah yang kini menjadi satu-satunya tempat beliau beristirahat setelah seharian berjualan.
Sejak lahir, Kakek Domo memiliki keterbatasan pada pertumbuhan fisiknya. Musibah lain kembali menghampirinya saat masih kecil. Beliau pernah mengalami kecelakaan, namun karena keterbatasan ekonomi, cedera yang dialaminya tidak pernah mendapatkan penanganan medis. Hingga kini, setiap langkah harus dibantu dengan tongkat seadanya. Bahkan gerobak yang digunakan untuk membawa roti kukus juga menjadi sandaran agar beliau tetap mampu melanjutkan perjalanan dari satu jalan ke jalan lainnya.
Saat kami bertanya mengapa beliau masih memilih berjualan di tengah kondisi tubuh yang sudah tidak lagi sekuat dulu, Kakek Domo hanya tersenyum tipis lalu berkata, "Kalau tidak jualan, saya mau makan apa..." Kalimat singkat itu seolah menggambarkan seluruh perjuangan hidup yang dijalaninya. Tidak ada anak yang menunggu kepulangannya. Tidak ada keluarga yang bisa dimintai bantuan ketika sakit ataupun saat dagangan sedang sepi. Yang beliau miliki hanyalah semangat untuk terus berusaha selama tubuhnya masih mampu melangkah.
Setiap hari, Kakek Domo berkeliling menjajakan roti kukus dari pagi hingga sore hari. Roti yang beliau jual bukanlah miliknya sendiri, melainkan titipan dari pabrik tempat beliau tinggal. Dari hasil berjualan itu, penghasilannya tidak pernah menentu. Bahkan dalam sehari, keuntungan yang diperoleh paling banyak hanya sekitar Rp50.000. Jumlah tersebut harus cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya seorang diri.
Meski hidup dalam keterbatasan dan tanpa keluarga yang mendampingi, Kakek Domo tidak pernah memilih menyerah ataupun meminta belas kasihan di jalanan. Beliau tetap bekerja dengan cara yang halal demi mempertahankan hidupnya. Di balik tubuhnya yang kecil dan langkahnya yang tertatih, tersimpan keteguhan hati yang begitu besar untuk terus berjuang menjalani hari demi hari.
#SahabatAksi, masa tua seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Namun bagi Kakek Domo, setiap langkah yang diambil masih menjadi perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mari bersama bantu Kakek Domo agar dapat memenuhi kebutuhan hidup, memiliki bekal di masa tuanya, dan menjalani hari-harinya dengan lebih layak.
Yuk! Kita bantu perjuangan Kakek Domo dengan memberikan donasi terbaikmu dengan cara:
- Klik tombol Donasi Sekarang.
- Masukkan nominal donasi.
- Pilih metode pembayaran (GoPay/LinkAja/BNI/Mandiri/BCA/BRI/BSI/Kartu Kredit).
- Ikuti instruksi selanjutnya untuk menyelesaikan pembayaran.
Sahabat Aksi bukan hanya bisa mendoakan dan ikut berdonasi, namun Sahabat juga bisa membantu lebih banyak dengan membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak orang yang ikut membantu.
------------------------------------------------------
Alamat Kantor Yayasan Sinar Fund Indonesia :
Jl. Ahmad Yani No.669, RT 001/ RW 008, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121
Legalitas Yayasan Sinar Fund Indonesia :
Izin KEMENKUMHAM
NOMOR AHU-0000297.AH.01.04.Tahun 2024
Hubungi Kami di :
0821 2945 4553 (Call Center)

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
